Berita

Patung George Washington/Net

Publika

Ketika George Washington Menolak Masa Jabatan Ketiga

OLEH: RADHAR TRIBASKORO*
JUMAT, 04 MARET 2022 | 13:17 WIB

GEORGE Washington adalah pahlawan perang Amerika. Ia memimpin tentara Amerika yang compang-camping namun berhasil mengalahkan tentara profesional Inggris. Setelah mengantarkan kemerdekaan Amerika Washington tidak lantas mabuk kekuasaan.

Ia memutuskan meninggalkan dinas ketentaraan dan memilih menekuni tanah pertaniannya di Mount Vernon. Tetapi tidak lama, ia dipanggil untuk memimpin Constitutional Convention di Philadelphia yang bermaksud merumuskan konstitusi Amerika.

Washington terbukti tidak cuma bisa memimpin tentara, ia juga bisa memimpin tokoh intelektual dan filsuf sekelas John Adams, Benyamin Franklin, James Madison, Alexander Hamilton, Thomas Jefferson, dll. Maka tidak heran setelah konstitusi Amerika disahkan, Washington terpilih menjadi presiden pertama Amerika Serikat.


Washington sudah meminta James Madison menulis pidato perpisahan ketika masa jabatan pertamanya akan berakhir. Namun saat itu negara terancam terbelah. Di satu sisi partai Federal yang dipimpin Hamilton berkeinginan memperkuat (negara) federal, sementara di sisi lain partai Demokrat-Republik yang dipimpin Jefferson menghendaki penguatan negara bagian.

Hanya setelah kedua bapak bangsa yang berbeda visi itu datang dan mengancam Amerika akan terbelah bila ia tidak memimpin lagi, Washington setuju pencalonan dirinya sebagai presiden.

Tetapi memasuki akhir masa jabatan kedua, Washington sudah merasa cukup. Ia masih orang paling dihormati dan dicintai oleh orang Amerika. Tidak akan ada orang yang bisa mengungguli dirinya andaikan ia ingin menjadi presiden lagi. Beberapa bulan sebelum pilpres ia menyatakan tidak mencalonkan diri lagi. Pernyataannya ini menjadi preseden yang sangat langka.

Di masa itu, bahkan sampai sekarang, sangat langka ada orang yang meninggalkan kekuasaan, just like that. Tidak Napoleon, tidak Bismarck, tidak Hitler, tidak Soekarno, mau melakukannya.

Maka tidak heran bila Raja George III dari Inggris, musuh bebuyutan George Washington dalam perang Revolusi Amerika, ketika mendapat berita bahwa Washington tidak melanjutkan jabatan ketiga, mengatakan, “Kalau ia benar melakukannya, ia adalah orang terbesar di dunia.”

Dengan menolak jabatan ketiga, Washington dengan sangat sadar menjadikan dirinya sebagai suri tauladan untuk tidak menjadikan kekuasaan sebagai segala-galanya. Ini adalah moral politik yang ia ingin berkembang di Amerika.

Namun begitu Washington masih saja didesak untuk menjadi presiden. Kawan-kawan Washington sangat mencemaskan keadaan negara yang semakin terbelah. Persaingan diantara kedua partai semakin sengit.

Washington menggambarkan, “Sudah tidak ada kebenaran. Tidak ada kesopanan. Mereka menyerang karakter hanya lantaran perbedaan politik.”

“Sebagai seorang federalis, saya seperti tidak berhak memperoleh dukungan dari kaum republik-demokrat,” Washington menambahkan.

Washington tetap menolak tawaran jabatan ketiga, sekalipun Presiden John Adams sudah membukakan jalan lebar dengan mengangkatnya sebagai KSAD.

Washington tidak menyadari bahwa penolakannya itu justru menjadi kunci yang menjawab masalah keterbelahan yang ia khawatirkan. Pembatasan 2 kali masa jabatan, menurut Gideon Maltz (2007), secara tidak langsung menciptakan proses transisi politik sebagai peristiwa yang normal, teratur, dan dapat diprediksi, sehingga pihak-pihak yang bersaing memiliki sedikit insentif untuk mengganggu sistem melalui cara-cara luar biasa seperti kudeta atau cara lain.

Moral politik yang ditanamkan oleh Washington berhasil meredakan ketajaman pisau perbedaan politik yang mengiris-iris bangsanya. Bagaimana pun tajam perbedaan politik tidak membuat bangsa Amerika jatuh ke dalam kekerasan. Pembatasan masa jabatan meredam ketegangan di masyarakat karena memungkin rotasi kekuasaan secara damai.

Suri tauladan Washington dipatuhi sampai 150 tahun kemudian ketika FD Roosevelt memenangkan masa jabatan…keempat.

Namun pelanggaran moral politik Washington ini dengan cepat direspon oleh Parlemen Amerika. Pada tahun 1951 Parlemen menyetujui amandemen ke-22 yang menegaskan batas 2 kali masa jabatan bagi presiden Amerika Serikat.

*Penulis adalah pemerhati isu-isu sosial politik kemasyarakatan

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya