Berita

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov/Net

Dunia

Lavrov: Rusia Ingin Rakyat Ukraina Terbebas dari Cengkaraman Psikologi Bandera

SABTU, 26 FEBRUARI 2022 | 09:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Rusia banyak menderita akibat nazisme, begitu pula dengan Ukraina. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengungkapkan semua orang tidak dapat menutup mata tentang hal itu.

"Itu mengapa, Rusia akan memastikan denazifikasi Ukraina," kata Lavrov dalam konferensi persnya pada Jumat (25/2), menambahkan bahwa Rusia juga akan memastikan demiliterisasi Ukraina.

Lavrov kemudian mengulang lagi seruan Putin sehari sebelumnya terkait demiliterisasi dan denazifikasi,  bahwa Rusia tidak ada maksud untuk menduduki ibukota Ukraina, Kiev, dan bahwa Presiden Putin meminta para tentara untuk menjatuhkan senjata dan pulang berkumpul bersama keluarga.


Rusia tidak ingin menjaga rakyat Ukraina yang berada dalam cengkeraman propaganda pro-Bandera, tetapi Rusia akan sangat menjunjung tinggi kebebasan rakyat Ukraina untuk menentukan nasib mereka sendiri.

"Kami ingin rakyat Ukraina atau, seperti yang dikatakan Presiden Putin, semua orang yang tinggal di wilayah Ukraina modern dapat dengan bebas, tanpa mencoba untuk mendorong mereka ke dalam cengkeraman psikologi Bandera, menentukan nasib mereka," katanya.

Demiliterisasi adalah pengurangan tentara, senjata, atau kendaraan militer suatu negara ke batas minimum yang telah disepakati. Sedangkan Denazifikasi yaitu upaya Putin untuk menghapuskan pengaruh NAZI yang ada di Ukraina karena telah melakukan kejahatan berdarah terhadap warga sipil.

Mengenai psikologi Bandera yang disebut Lavrov, merujuk pada aksi pro-Bandera yang selama ini digaungkan Ukraina. Bandera adalah aktivis pemimpin nasionalis Ukraina yang bernama lengkap Stepan Bandera. Jika bagi Ukraina beliau adalah pahlawan, bagi orang lain, dia adalah penjahat perang yang pasukan nasionalisnya melakukan kekejaman terhadap orang Yahudi dan Polandia selama Perang Dunia II.

Pada 2010, Bandera dinobatkan sebagai 'Pahlawan Ukraina' oleh Presiden Viktor Yuschenko, yang kemudian memicu kemarahan di Eropa, Polandia dan Israel.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya