Berita

Duta Besar Republik Ukraina untuk Republik Indonesia, Vasyl Hamianin/RMOL

Global

Dubes Vasyl Hamianin: Rusia Tak Pernah Menganggap Ukraina Ada

JUMAT, 18 FEBRUARI 2022 | 00:52 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Federasi Rusia kerap menggunakan alasan “kemanusiaan” untuk menjustifikasi invasi mereka di negeri tetangga.

Ketika menginvansi Georgia pada Agustus 2008 silam, misalnya. Rusia beralasan kehadiran mereka di Osetia dan Abkhazia adalah atas undangan kelompok etnis Rusia yang ada di dua wilayah itu.

Sampai sekarang, Rusia mengklaim kekuasaan atas Osetia dan Abkhazia, walaupun dunia internasional mengakui kedaulatan Georgia atas kedua wilayah ini.


Alasan yang sama juga digunakan Rusia ketika menginvasi Ukraina pada 2014, di Krimea, Donetsk, dan Luhansk. Sampai hari ini Rusia mengklaim Krimea dan memberikan dukungan pada separatis Donetsk dan Luhansk, walaupun dunia internasional, seperti dalam kasus Osetia dan Abkhazia, juga mengakui Krimea, Donetsk, dan Luhansk sebagai bagian dari teritori Ukraina.

Ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina beberapa waktu belakangan ini pun terjadi karena dukungan Rusia pada aksi kelompok separatis Donetsk dan Luhansk di selatan Ukraina, dan provokasi dari latihan perang bersama Rusia dan Belarusia di utara Ukraina.

Duta Besar Republik Ukraina untuk Republik Indonesia, Vasyl Hamianin, dalam perbincangan dengan CEO RMOL Network, Teguh Santosa, (Kamis, 17/2) menjelaskan, alasan kemanusiaan yang kerap disampaikan Rusia itu sesungguhnya dibuat-buat dan merupakan kebohongan belaka.

Termasuk soal referandum yang dilakukan di Krimea pada tahun 2014. Referandum itu dimenangkan oleh kelompok masyarakat Krimea yang ingin memisahkan diri dari Ukraina dan kembali bergabung dengan Rusia dengan perolehan suara yang sangat mencolok, lebih dari 95 persen.

Masalahnya, menurut Dubes Vasyl Hamianin, yang disebut sebagai masyarakat Krimea yang mengikuti referandum itu sebenarnya bukan masyarakat asli Krimea. Mereka adalah kelompok etnik Rusia yang didatangkan ke Krimea di era Uni Soviet.

Menurut sejumlah catatan, tak lama setelah merebut Semenanjung Krimea pada tahun 1944, Uni Soviet mendeportasi kelompok etnik Tatar Krimea yang merupakan penduduk pribumi Krimea ke negeri-negeri di Asia Tengah yang lebih dahulu diduduki Uni Soviet. Seperti masyarakat Asia Tengah lainnya, Tatar Krimea juga merupakan bagian dari kelompok etnik besar yang dikenal sebagai Etnik Turkis, karena pernah berada di bawah pengaruh peradaban Turkis untuk waktu yang sangat lama.

Saat ini diperkirakan sekitar 15 persen dari populasi penduduk Semenanjung Krimea adalah keturunan Tatar Krimea. Sementara sebagian besar keturunan Tatar Krimea menjadi diaspora di Turki, Uzbekistan, dan negara-negara Asia Tengah lainnya.

Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya pemerintah Rusia mengakui Tatar Krimea sebagai kelompok minoritas. Namun Rusia masih enggan mengakui Tatar Krimea sebagai penduduk pribumi di wilayah itu.

“Saya prihatin dengan apa yang dialami oleh saudara-saudara Muslim etnik Tatar Krimea di Krimea,” ujar Dubes Vasyl Hamianin yang lahir di Kota Dnipro tahun 1971 ini.

Pemilik gelar doktor sejarah dunia dari Institut Studi Oriental, Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Ukraina dalam perbincangan itu juga menggarisbawahi tekanan Rusia terhadap Ukraina yang telah berlangsung setidaknya selama tiga abad.

Terlebih Presiden Rusia Vladimir Putin yang berkuasa di Rusia memiliki cara pandang yang sama mengenai Ukraina seperti yang dimiliki oleh para pendahulunya, baik di era Emporium Rusia maupun di era Uni Soviet.

Putin pernah mengatakan, bahwa bencana geopolitik terburuk di abad ke-20 adalah kehancuran Uni Soviet. Menurut Dubes Vasyl Hamianin, ini adalah sinyalemen bahwa Rusia berkeinginan membangun kembali Emporium Rusia atau Uni Soviet baru seperti di masa lalu.

“Mereka juga selalu mengatakan, tidak pernah ada negara yang namanya Ukraina. Ini mereka sampaikan secara terbuka berkali-kali. Bagi mereka, Ukraina adalah bagian dari Emporium Rusia yang untuk sementara meninggalkan sarang, dan kelak akan kembali,” ujarnya lagi.

Dubes Vasyl Hamianin menegaskan, untuk menghadapi sikap bermusuhan Rusia yang abadi ini Ukraina merasa perlu meningkatkan kapasitas pertahanan dan menggalang dukungan internasional, termasuk dari Indonesia.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya