Berita

Ketua JMSI Aceh, Hendro Saky (tengah) bersama dengan Ketua Umum JMSI Teguh Santosa (kiri) di Kopi Timur, Pondok Kelapa, Jakarta Timur/Ist

Publika

Teguh Santosa dan Korea Utara

OLEH: HENDRO SAKY*
SELASA, 15 FEBRUARI 2022 | 14:00 WIB

DALAM perjalanan ke Bandung beberapa waktu lalu, saya menumpang mobil Teguh Santosa. Berangkat dari Jakarta, kami menelusuri jalanan ibukota menuju kota dingin itu. Banyak topik yang kami perbincangkan, dari soal organisasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), politik nasional, hingga soal geo-politik negara-negara yang pernah dikunjunginya.

Bicara tema politik, Teguh sangat menguasai persoalan. Penjelasannya yang dibangunnya dibarengi dengan teori-teori dari buku bacaan. Maklum, selain sebagai Ketua Umum JMSI, pria yang juga menjabat sebagai CEO RMOL Network itu adalah dosen hubungan internasional di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Waktu tempuh yang agak panjang menuju Bandung, tidak saya sia-siakan untuk banyak bertanya, dan menimba ilmu dari Teguh Santosa.


“Sebenarnya bagaimana Korea Utara itu, Bang. Sebab selama ini opini yang dibangun tentang negeri itu agak miring. Bias informasi kerap terbangun,” tanyaku padanya.

Pertanyaan itu saya ajukan bukan tanpa alasan, sebab rekam jejak Teguh tentang Korea Utara sangat baik. Dia beberapa kali berkunjung kesana, hingga mendapatkan dua bintang kehormatan dari negara itu.

Pasca kejatuhan Uni Soviet, Korea Utara sempat mengalami kegamangan. Ada kegundahan, dan proses menuju normalisasinya sangat panjang, terang Teguh.

Kim Il Sung, pemimpin Korea Utara saat itu, berhasil membawa Korea Utara keluar dari krisis pasca kejatuhan Uni Soviet. Persoalan utama kala itu adalah stabilitas politik, pondasi ekonomi, termasuk bahan pangan, katanya lagi.

Ketika masih menjadi satelit Uni Soviet, Korea Utara mendapatkan berbagai kemudahan, di bidang pertahanan, ekonomi, infrastruktur, teknologi, dan sebagianya. Sungguh kehancuran Uni Soviet berpotensi menjadi krisis multi-dimensi di negara itu, papar Teguh lagi.

Rakyat Korea Utara itu sangat displin, mereka punya ketahanan dalam menghadapi masalah. Itulah yang membuat negara itu dapat bangkit dari krisis besar, terangnya lagi.

Teguh sangat paham geo-politik Korea Utara. Ia kerap diundang ke negara itu dan bahkan dalam berbagai forum ia kerap menjadi pembicara untuk isu Semenanjung Korea. Pengetahuan Teguh tentang negeri itu dibangun dari berbagai bacaan, serta kunjungannya secara langsung.

Pada kesempatan berbeda, saya juga pernah mengajukan pertanyaan, kenapa memilih Korea Utara sebagai fokus studi. Dia menjawab, dirinya suka memikirkan negara-negara yang sedikit orang memikirkannya.

Kembali pada persoalan Korea Utara. Teguh melanjutkan bahwa, kehidupan sosial di negara itu sama seperti negara lain. Warganya banyak bertani dan bekerja pada sektor industri. Infrastruktur di sana juga cukup baik, tidak seperti bayangan orang selama ini mengenai Korea Utara yang didapat dari bacaan media.

Kemaren saya dapat kabar dari Mahmud Marhaba, rekan di JMSI, bahwa Teguh Santosa terpilih sebagai Ketua Umum Persahabatan Indonesia Korea Utara (PPIK). Tentu itu bukan hal yang mengejutkan. Dia memang pantas mendapatkannya.

Dia belajar banyak mengenai Korea Utara dari Almarhumah Rachmawati Sukarnoputri yang mendirikan PPIK. Kunjungan pertama Teguh ke Korea Utara adalah di tahun 2003. Ketika itu ia menjadi utusan Rachma.

Di tahun 2015, Rachma kembali mengutusnya ke Pyongyang. Kali ini membawakan Star of Soekarno yang diberikan Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS), yang juga didirikan Rachma, kepada pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.  

Di luar itu, Teguh kerap membawa rekan-rekannya ke Korea Utara. Alasannya, agar dia tidak sendirian dan semakin banyak orang yang memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan Korea Utara dan masyarakat negara itu.

Di tahun 2017 ia membawa budayawan dan pendiri Museum Rekor Indonesia-Dunia (MURI) Jaya Suprana ke Korea Utara. Di tahun 2018, ia ke Pyongyang bersama mantan menteri, bos media dan wartawan senior Dahlan Iskan.

Sebagai sahabat Teguh Santosa, saya mengucapkan selamat atas amanah barunya, semoga hal itu dapat semakin menguatkan persahabatan Indonesia dan Korea Utara di masa depan. Selamat ya Teguh Santosa.

*Penulis adalah Ketua JMSI Aceh

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya