Berita

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan/Net

Dunia

Beri Dukungan untuk Penindasan Uighur, Pakistan Tak Punya Pilihan Selain Bergantung pada China

KAMIS, 10 FEBRUARI 2022 | 17:54 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Dukungan Pakistan atas tindakan China terhadap minoritas Uighur di Xinjiang menunjukkan semakin besarnya ketergantungan Islamabad pada Beijing dalam segala hal.

Menurut seorang pakar geopolitik asal Italia, Sergio Restelli, pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan tidak memiliki pilihan selain berkomitmen secara publik pada kebijakan China, meski Beijing bertanggung jawab atas genosida terhadap minoritas Muslim Uighur.

Ketika banyak negara berusaha menyuarakan penolakan terhadap penindasan minoritas Uighur, termasuk memboikot secara diplomatik Olimpiade Beijing, Pakistan melakukan hal sebaliknya.


"Namun, Imran Khan melakukan hal sebaliknya. Khan menyambut baik kebijakan represi China di Xinjiang. Pakistan selalu menutup mata terhadap penderitaan orang Uighur," kata Restelli, seperti dikutip ANI News.

Jika dilihat lebih dalam, Restelli mencatat, utang luar negeri Pakistan saat ini meningkat, sementara cadangan devisi menipis, inflasi melonjak pada tingkat yang mengkhawatirkan, dan defisit transaksi semakin lebar.

Situasi ekonomi Pakistan saat ini dinilainya terancam bangkrut.

Di sisi lain, ia juga menyoroti langkah Amerika Serikat (AS) yang menjauhi Pakistan setelah menarik pasukannya dari Afghanistan. Terlihat dari bantuan keuangan yang menurun tajam.

Dengan skenario tersebut, Pakistan seakan tidak punya pilihan selain lebih bergantung pada China, baik secara ekonomi dan diplomatik. Namun tentu, dengan harga yang besar.

Selama kunjungan Khan ke China untuk menghadiri pembukaan Olimpiade Beijing, Pakistan menyatakan dukungan dan komitmennya atas semua kebijakan Beijing terhadap Taiwan, Laut China Selatan, hingga Xinjiang.

"Pihak Pakistan menyatakan komitmennya terhadap kebijakan Satu-China dan dukungannya untuk China di Taiwan, Laut China Selatan, Hong Kong, Xinjiang, dan Tibet," begitu penyataan bersama kedua negara.

Sontak pernyataan itu memancing perdebatan di publik.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya