Berita

Junta Myanmar/Net

Dunia

Takut Junta, Mayoritas Warga Myanmar Putuskan Hubungan Kekeluargaan dengan Mereka yang Anti-Kudeta

SENIN, 07 FEBRUARI 2022 | 08:58 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Tekanan dan intimidasi dari junta membuat warga Myanmar semakin kesulitan. Bahkan mereka yang menolak kudeta terus terpinggirkan, termasuk oleh keluarga.

Mengutip data yang dimuat Reuters, setiap harinya selama tiga bulan terakhir, rata-rata terdapat enam hingga tujuh keluarga di Myanmar yang memasang pengumuman di koran bahwa mereka telah memutuskan hubungan kekeluargaan dengan putra, putri, keponakan, hingga cucu mereka yang secara terbuka menolak kudeta.

Pengumuman semacam itu mulai muncul ketika pada November tahun lalu, junta mengatakan akan mengambil alih properti dan menangkap orang-orang yang memberikan perlindungan bagi para pengunjuk rasa anti-kudeta.


Setelah itu, serangkaian penggerebekan pun dilakukan.

Dalam sebuah konferensi pers pada November, jurubicara junta Zaw Min Tun mengatakan, keluarga yang sudah mengumumkan pemutusan hubungan dengan pengunjuk rasa juga akan mendapatkan denda jika kedapatan masih memberikan perlindungan pada anti-junta.

Salah satu pengunjuk rasa yang akhirnya tidak diakui oleh keluarganya adalah Lin Lin Bo Bo, seorang wanita 26 tahun yang bergabung dengan kelompok bersenjata anti-kudeta.

"Kami menyatakan bahwa kami tidak mengakui Lin Lin Bo Bo karena dia tidak pernah mendengarkan kehendak orang tuanya," kata pemberitahuan yang diunggah oleh orang tuanya, San Win dan Tin Tin Soe, di surat kabar milik negara The Mirror pada bulan November.

Lin Lin Bo Bo menuturkan ibunya telah mengatakan kepadanya bahwa dia tidak mengakuinya lagi setelah tentara datang ke rumah keluarga mereka untuk mencarinya. Beberapa hari kemudian, dia menangis ketika membaca pemberitahuan di koran.

"Rekan-rekan saya mencoba meyakinkan saya bahwa tidak dapat dihindari bagi keluarga untuk melakukan itu di bawah tekanan. Tapi saya sangat patah hari," ujarnya.

Myanmar jatuh ke dalam krisis hebat setelah junta merebut kekuasaan dari pemerintahan sipil yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi pada 1 Februari tahun lalu.

Sejak itu, aksi protes menolak kudeta militer muncul, yang dibalas dengan kekerasan oleh junta hingga membuat ribuan orang meninggal dunia dan belasan ribu lainnya ditahan.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Iran Sodorkan 14 Syarat Damai yang Harus Dipenuhi AS

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:59

KPK Soroti Aset Mangkrak Rp27,5 Triliun di Sulsel

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:20

Ribuan Jemaah Haji Bertahap Bergerak dari Madinah ke Makkah

Minggu, 03 Mei 2026 | 09:14

Ratas Hambalang, Prabowo Matangkan Agenda Pendidikan hingga Hilirisasi Nasional

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:51

Mahasiswa Didorong Kembali jadi Kekuatan Pengontrol Sosial

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:39

Update harga BBM Terbaru di SPBU Pertamina, BP, hingga Vivo

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:27

Perpres Ojol Bawa Angin Segar Bagi Pengemudi Online

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:20

Pemerataan Pendidikan Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045

Minggu, 03 Mei 2026 | 08:14

Amien Rais Sebaiknya Segera Klarifikasi

Minggu, 03 Mei 2026 | 07:46

Publik Nantikan Aksi Nyata Dudung Bereskan Masalah MBG

Minggu, 03 Mei 2026 | 07:36

Selengkapnya