Berita

Delegasi Taliban saat tiba di Oslo/Net

Dunia

Setelah Taliban Terlibat Pembicaraan Oslo, Apa Dampaknya untuk Afganistan?

SELASA, 01 FEBRUARI 2022 | 00:37 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Seminggu setelah sejumlah pemimpin Taliban serta pejabat Senior Amerika Serikat dan Eropa duduk bersama dalam pembicaraan di ibukota Norwegia, Oslo, hasil utama yang muncul tampaknya adalah janji peningkatan bantuan kemanusiaan, sorotan pada isu hak asasi manusia dan tersirat ada pengakuan "de facto" akan pemerintahan Taliban di Afghanistan. Begitu analisa sejumlah pengamat.

Sejak pengambilalihan kekuasaan pada Agustus lalu, belum ada pemerintah asing yang secara resmi mengakui legitimasi kekuasaan Taliban atas Afghanistan. Kelompok itu menamakan pemerintahan mereka di Afghanistan sebagai Imarah Islam Afghanistan (IEA).

Meski begitu, sejumlah negara di dunia mulai terlibat dengan IEA di berbagai tingkatan.


Pembicaraan di Oslo pada 24 Januari lalu adalah perjalanan resmi pertama oleh penjabat Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi dan delegasinya ke Eropa sejak Taliban Afghanistan merebut Kabul dan menguasai Afghanistan.

Pada pembicaraan itu, diplomat dari Amerika Serikat dan Eropa mengatakan mereka mengatakan kepada pejabat Taliban Afghanistan bahwa mereka siap meningkatkan bantuan kemanusiaan, namun hal itu akan dikaitkan dengan peningkatan situasi hak asasi manusia di negara itu, yang menurut kelompok hak asasi internasional dan aktivis Afghanistan telah memburuk sejak Taliban berkuasa.

“(Kami) mendesak Taliban untuk berbuat lebih banyak untuk menghentikan peningkatan pelanggaran hak asasi manusia yang mengkhawatirkan, termasuk penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, tindakan keras media, pembunuhan di luar proses hukum, penyiksaan dan larangan pendidikan perempuan dan anak perempuan, pekerjaan dan kebebasan untuk bepergian tanpa pendamping laki-laki,” begitu kutipan dari pernyataan bersama Amerika Serikat-Eropa yang dikeluarkan setelah pembicaraan.

Pernyataan yang sama menjelaskan bahwa pembicaraan itu juga mengakui urgensi dalam menangani krisis kemanusiaan di Afghanistan dan menyoroti langkah-langkah yang diperlukan untuk membantu meringankan penderitaan warga Afghanistan di seluruh negeri.

Seorang peneliti yang juga merupakan analis kebijakan, Mohsin Amin mengatakan bahwa pembicaraan Oslo adalah tanda-tanda pengakuan implisit atas pemerintah Taliban.

“Saya pikir itu sudah diakui sebagai pemerintahan de facto,” katanya kepada Al Jazeera.

“Saya pikir (pembicaraan Oslo) dapat dianggap sebagai pencapaian diplomasi Taliban. Taliban menginginkan keterlibatan dengan seluruh dunia, dan pertemuan semacam itu memfasilitasi keterlibatan semacam itu," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sulaiman bin Shah, mantan wakil menteri industri dan perdagangan di pemerintahan Presiden Ashraf Ghani yang digulingkan. Ia menilai bahwa bahwa pembicaraan Oslo dan bentuk-bentuk keterlibatan lainnya secara efektif menciptakan situasi di mana aturan baru diakui secara de facto.

Shah mengatakan komunitas internasional berusaha untuk berjalan di garis tipis antara menangani krisis kemanusiaan yang ekstrem tanpa melegitimasi pemerintah Taliban.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya