Berita

Presiden Joko Widodo, Menko Polhukam Mahfud MD, dan mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu/Net

Politik

Iwan Sumule: Jadi Soal Satelit Kemhan yang Mesti Disalahkan Joko Widodo atau Ryamizard Ryacudu?

SELASA, 18 JANUARI 2022 | 16:22 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Dugaan korupsi penyewaan satelit pertahanan pada Kementerian Pertahanan terus menjadi polemik. Setelah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menggelar jumpa pers soal dugaan ini, mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa dirinya mendapat perintah langsung dari Presiden Joko Widodo perihal tersebut.

Kata Ryamizard, Jokowi saat itu mengeluarkan diskresi untuk menyelamatkan slot orbit 123 derajat Bujur Timur, kendati Kemhan belum memiliki anggaran saat memanfaatkan slot yang berada di atas pulau Sulawesi tersebut. Namun,Kemhan harus tetap menyewa satelit demi menyelamatkan slot orbit sebagaimana perintah Jokowi.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule pun mengaku bingung dengan duduk kasus ini. Khususnya tentang siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas kasus ini.


"Proyek Satelit Kemhan itu atas persetujuan Presiden Jokowi. Jadi yang mestinya dipersalahkan itu siapa, Jokowi atau Menhan Ryacudu?" tanyanya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Selasa (18/1).

Menurutnya, langkah Mahfud menguak atau meributkan kasus ini, justru bisa menjadi bumerang terhadap Presiden Joko Widodo. Apalagi jika disebut bahwa kasus proyek satelit ini ada indikasi aroma korupsi, kolusi, dan nepotisme.

"Semestinya, pikiran harus mendahului mulut. Karena apa yang diomongkan harus dipikirkan lebih dulu. Terkecuali, memang bermaksud mengarahkan pertanggungjawaban Proyek Satelit Kemhan itu kepada Presiden Jokowi," sambungnya.


Proyek satelit militer menjadi polemik karena membuat negara menelan kerugian besar. Keputusan pengadilan arbitrase internasional di Inggris dan Singapura menghukum Indonesia dan mewajibkan untuk membayar beberapa perusahaan yang terlibat dalam penandatanganan kontrak dengan Kemhan senilai Rp 815 miliar.

Namun demikian, Ryamizard menekankan bahwa ada unsur kedaruratan dalam pengisian satelit di slot orbit. Sebab, apabila Indonesia tidak segera menunjukkan komitmennya kepada International Telecommunication Union (ITU), slot tersebut bisa diberikan kepada pihak lain.

"Saya ini prajurit, mendapat perintah selamatkan orbit 123 BT, saya lakukan dan berhasil. Kalau itu tidak saya lakukan, orbit itu bisa diambil pihak lain dan membahayakan kedaulatan negara," tegasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya