Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Habitat Alami Rusak, Dua Ekor Gajah Ditemukan Tewas Karena Makan Sampah Plastik

SENIN, 17 JANUARI 2022 | 11:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Maraknya kematian gajah-gajah di sekitar tempat pembuangan sampah di Sri Lanka dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi fokus perhatian pakar hewan di negara tersebut.

Sekitar 20 ekor gajah dilaporkan mati selama delapan tahun terakhir setelah memakan sampah plastik di tempat pembuangan sampah di desa Pallakkadu di distrik Ampara, sekitar 210 kilometer sebelah timur ibu kota, Kolombo.

Dokter hewan satwa liar Nihal Pushpakumara buka suara mengenai masalah tersebut.


Menurutnya, dari hasil pemeriksan menunjukkan bahwa hewan-hewan itu telah menelan sejumlah besar plastik yang tidak dapat terurai yang ditemukan di tempat pembuangan sampah.

"Polythene, pembungkus makanan, plastik, non-digestible lainnya dan air adalah satu-satunya hal yang bisa kita lihat di post mortem. Makanan normal yang dimakan dan dicerna gajah tidak jelas," katanya, seperti dikutip dari AP, Senin (17/1).

Pernyataan Pushpakumara datang tak lama setelah ditemukannya kembali dua ekor gajah yang mati di tempat pembuangan akhir pekan ini.

Gajah adalah hewan yang dihormati di Sri Lanka, tetapi di saat bersamaan mamalia itu juga terancam punah. Jumlah mereka telah berkurang dari sekitar 14.000 pada abad ke-19 menjadi 6.000 pada tahun 2011, menurut sensus gajah pertama di negara itu.

Hewan berkaki empat itu semakin rentan akibat hilangnya dan degradasi habitat alami mereka. Banyak yang menjelajah lebih dekat ke pemukiman manusia untuk mencari makanan, dan beberapa dibunuh oleh pemburu liar atau petani yang marah karena kerusakan tanaman mereka.

"Gajah lapar mencari sampah di tempat pembuangan sampah, memakan plastik serta benda tajam yang merusak sistem pencernaan mereka," kata Pushpakumara.

"Gajah-gajah itu kemudian berhenti makan dan menjadi terlalu lemah untuk menopang tubuhnya yang berat. Ketika itu terjadi, mereka tidak bisa mengonsumsi makanan atau air, yang mempercepat kematian mereka," ujarnya.

Pada 2017, pemerintah mengumumkan akan mendaur ulang sampah di tempat pembuangan dekat zona satwa liar untuk mencegah gajah mengonsumsi sampah plastik.

Mereka juga mengatakan akan mendirikan pagar listrik di sekitar lokasi untuk menjauhkan hewan-hewan itu. Namun, keduanya belum sepenuhnya dilaksanakan.

Ada 54 tempat pembuangan sampah di zona satwa liar di seluruh negeri, dengan sekitar 300 gajah berkeliaran di dekat mereka, menurut para pejabat.

Tempat pengelolaan sampah di desa Pallakkadu didirikan pada tahun 2008 dengan bantuan dari Uni Eropa. Sampah yang dikumpulkan dari sembilan desa terdekat dibuang di sana tetapi tidak didaur ulang.

Pada tahun 2014, pagar listrik yang melindungi situs tersebut disambar petir dan pihak berwenang tidak pernah memperbaikinya, sehingga gajah dapat masuk dan mengobrak-abrik tempat pembuangan sampah. Warga mengatakan gajah telah bergerak lebih dekat dan menetap di dekat lubang pembuangan, memicu ketakutan di antara penduduk desa terdekat.

Banyak yang menggunakan petasan untuk mengusir binatang tersebut ketika mereka berkeliaran di desa, dan beberapa memasang pagar listrik di sekitar rumah mereka.

"Meskipun kami menyebutnya sebagai ancaman, gajah liar juga merupakan sumber daya. Pihak berwenang perlu menemukan cara untuk melindungi kehidupan manusia dan gajah yang juga memungkinkan kami untuk melanjutkan kegiatan pertanian kami," kata Keerthi Ranasinghe, seorang anggota dewan desa setempat.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya