Berita

Mali/Net

Dunia

China dan Rusia Gagalkan Upaya ECOWAS Jatuhkan Sanksi untuk Mali di DK PBB

RABU, 12 JANUARI 2022 | 15:32 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Rusia dan China telah memblokir upaya Masyarakat Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat (ECOWAS) di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Mali.

Pada Minggu (9/1), para pemimpin ECOWAS memutuskan untuk menangguhkan sebagian besar perdagangan dan bantuan keuangan ke Mali, menutup perbatasan darat dan udara mereka, serta menyiagakan pasukan.

Langkah itu dilakukan setelah pada bulan lalu, pemerintahan sementara Mali mengusulkan untuk tetap berkuasa hingga lima tahun sebelum mengadakan pemilu. Padahal mereka berjanji untuk mengadakan pemilu pada 27 Februari tahun ini.


Upaya ECOWAS untuk menjatuhkan sanksi terhadap Mali kemudian didukung oleh Prancis, yang menjadi bekas kekuatan kolonial di negara Afrika Barat tersebut.

"Kami berada dalam solidaritas penuh dengan kawasan ini, dan dengan sikap yang sangat berani dan jelas dari ECOWAS," ujar Presiden Prancis, Emmanuel Macron pada Selasa (11/1).

Amerika Serikat (AS) juga menyatakan posisi serupa, mendukung blok 15 negara tersebut untuk mendesak rezim Mali menghormati janjinya.

Namun sebuah pernyataan dewan yang dirancang oleh Prancis gagal disetujui dalam konsultasi tertutup pada Selasa, seperti dikutip Al Jazeera.

Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani mengaku kecewa dengan keputusan tersebut.

Sementara itu, Duta Besar China Dai Bing mencatat Mali berada di tengah masa transisi kritis dan pasukan luar harus menahan diri untuk tidak memberikan tekanan berlebih pada negara Afrika Barat itu.

Alih-alih, Dai mendorong agar ECOWAS dan Mali memperkuat dialog dan menyelesaikan masalah regional mereka.

“Kami memahami dan menyadari kesulitan yang dihadapi oleh otoritas Mali dalam mempersiapkan pemilihan umum. Kami setuju bahwa tidak adanya pemulihan kontrol pemerintah di banyak bagian, wilayah negara, akan sulit untuk melihat pemungutan suara sebagai sah," kata Duta Besar Rusia Vassily Nebenzia.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8 Teradang Gelombang Tinggi Capai 2,5 Meter

Minggu, 13 September 2026 | 18:04

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Polisi Update Temuan Barang Diduga Milik Kapal Pengangkut 5 Jurnalis

Minggu, 13 September 2026 | 17:16

Prabowo Ungkap Transformasi Pangan Indonesia di Hadapan Pemimpin BRICS

Minggu, 13 September 2026 | 17:02

Aspekpir Puji Komitmen PTPN IV PalmCo Majukan Petani Mitra

Minggu, 13 September 2026 | 16:50

Prabowo Ajak BRICS Ubah Kerentanan Jadi Kekuatan untuk Pertumbuhan Global

Minggu, 13 September 2026 | 16:49

BNI Perkuat Ekosistem Industri Kecantikan Lewat BSF 2026

Minggu, 13 September 2026 | 16:46

Kerugian Bisnis Tak Otomatis jadi Tindak Pidana

Minggu, 13 September 2026 | 16:27

Dua Armada Pos Indonesia Ikut Tenggelam Bersama KMP Virgo

Minggu, 13 September 2026 | 16:21

Kapal Pertamina Bantu Selamatkan 16 Korban Virgo Transport 08 di Laut Jawa

Minggu, 13 September 2026 | 16:02

Selengkapnya