Berita

Pertemuan virtual antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin/Net

Dunia

AS Siap Urungkan Rencana Sebar Rudal di Ukraina Jika Rusia Hentikan Penumpukan Militer di Perbatasan

MINGGU, 09 JANUARI 2022 | 09:34 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Amerika Serikat (AS) menawarkan kesepakatan untuk menghentikan ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

Negosiator AS dan Rusia dijadwalkan untuk bertemu pada Minggu (9/1) dan Senin (10/1) untuk membahas situasi di perbatasan Rusia dan Ukraina yang memanas.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, AS secara terbuka akan membahas kemungkinan untuk menghentikan rencana menyebarkan rudal di Ukraina dan membatasi latihan militer NATO di Eropa Timur jika Rusia menghentikan ancamannya terhadap Ukraina.


Sumber itu menyebut kesepakatan timbal balik tersebut akan bergantung pada Rusia, namun juga dibuat dengan persetujuan Ukraina dan NATO.

"Kami pikir setidaknya bisa menjajaki kemungkinan membuat kemajuan dengan Rusia. Tidak akan ada komitmen tegas yang dibuat dalam pembicaraan ini," ujarnya.

"Kami pergi ke pertemuan ini dengan rasa realisme, bukan rasa optimisme," tambahnya.

Presiden AS Joe Biden sendiri telah mengatakan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa Washington tidak berniat menyebarkan rudal ofensif ke Ukraina.

Selain itu, pejabat Gedung Putih lainnya menegaskan AS dan mitra Eropanya akan memukul keras Rusia dengan sanksi ekonomi jika menyerang Ukraina.

Selain sanksi langsung terhadap entitas Rusia, hukuman dapat mencakup pembatasan signifikan terhadap ekspor AS ke Rusia, termasuk komponen dan perangkat lunak elektronik, dan produk berpotensi buatan asing yang tunduk pada yurisdiksi AS.

Rusia juga dapat ditambahkan ke kelompok negara yang paling ketat untuk tujuan kontrol ekspor, menempatkannya bersama dengan Kuba, Iran, Korea Utara, dan Suriah.

Ketegangan di perbatasan terjadi ketika Ukraina menyebut Rusia telah menumpuk pasukannya di perbatasan. AS dan NATO yang menyatakan dukungan untuk Ukraina berkomitmen siap membantu melawan Rusia.

Di sisi lain, Rusia menyebut pengerahan pasukan di wilayahnya merupakan hak. Sebaliknya, Moskow menuding NATO berusaha memperluas pengaruhnya ke timur.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya