Menteri Kesehatan Jerman Karl Lauterbach/Net
Kasus pengrusakan kantor konstituen lokal Menteri Kesehatan Karl Lauterbach di Cologne, negara bagian Nordrhein-Westfalen Jerman, pada Malam Tahun Baru berbuntut panjang.
Dilaporkan bahwa pihak berwenang Jerman telah meluncurkan penyelidikan dan mengaitkan serangan itu dengan para penyangkal Covid dan anti-vaxxers yang radikal.
Sementara polisi negara bagian telah meminta saksi untuk dihadirkan, Menkes Lauterbach mengatakan kepada kantor berita lokal bahwa dia mencurigai pelaku perusakan adalah orang yang sama yang sebelumnya telah melakukan serangan di kantor dan mengiriminya email berisi ancaman.
Pada 10 Desember, kantor tersebut dilaporkan telah dicoret-coret dengan slogan-slogan seperti “Menteri Penyakitâ€, “Pembunuhâ€, dan “Psycho Lauterbach.â€
Tidak hanya melakukan vandalisme, para penyerang bahkan menghancurkan salah satu jendela di kantor tersebut.
“Orang-orang ini tidak mewakili masyarakat, di mana (mayoritas) yang luar biasa benar-benar bersatu dan berusaha melakukan segalanya melawan pandemi,†kata Lauterbach, seperti dikutip dari
RT, Selasa (4/1).
Tak hanya kantor Menkes, kantor Marco Wanderwitz, anggota parlemen sayap kanan-tengah Demokrat Kristen (CDU) di negara bagian timur Saxony, juga menjadi sasaran perusakan. Jendela kantornya di kota Zwönitz rusak berat, menurut laporan media Jerman.
Wanderwitz mengatakan kepada media lokal Redaktionsnetzwerk Deutschland (RND) bahwa kelompok sayap kanan berada dibalik serangan.
"Kelompok radikal sayap kanan meracuni masyarakat selama pandemi Covid-19 dan telah meninggalkan demokrasi dalam bahaya besar," ujarnya.
Menurut laporan DW, Saxony dan negara bagian timur lainnya telah melihat lonjakan kasus Covid, tetapi juga termasuk di antara negara yang divaksinasi terendah. Ada juga protes panas di Saxony yang semakin tegang setelah Bundestag (Parlemen Jerman) meloloskan mandat vaksin untuk beberapa profesi pada bulan Desember.
Hal itu juga dipicu skeptisisme yang meluas atas data resmi Covid-19 yang dirilis pemerintah, di mana survei baru yang dilakukan surat kabar Bild menemukan bahwa 57 persen responden tidak mempercayai statistik tersebut.