Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Media Asing Soroti Indonesia yang Tolak Kapal Pengungsi Rohingya Mendarat

RABU, 29 DESEMBER 2021 | 08:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Keputusan Pemerintah Indonesia mendorong kapal kayu berpenumpang sekitar 100 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di perairan Bireuen, Aceh, ke perairan Malaysia, menjadi sorotan media asing.

AFP dalam laporannya pada Selasa (28/12) menyoroti sikap pihak berwenang Indonesia yang menolak kedatangan mereka, meski sudah ada permintaan dari lembaga non pemerintah dan PBB agar kapal itu diijinkan untuk mendarat.

Alih-alih membiarkan mendarat, pihak berwenang berusaha untuk mengirim kelompok itu kembali setelah memberikan pasokan, pakaian dan bahan bakar, serta teknisi untuk memperbaiki kapal mereka yang rusak.


“Kami berharap (pasokan) dapat membantu Rohingya untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Malaysia seperti yang direncanakan dan dimaksudkan,” kata Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy.

"Kami akan pantau sampai mereka sampai di tempat tujuan," ujarnya.

Kapal kayu itu pertama kali terlihat dua hari lalu, terdampar sekitar 70 mil laut di lepas pantai Indonesia.

Amnesty International dan UNHCR sebenarnya telah meminta pemerintah untuk membiarkan kelompok pengungsi Rohingya yang terdampar itu mendarat.

"Ini tentang hidup dan mati. Ada perempuan dan anak-anak, kita harus memperhatikan kesehatan mereka," kata direktur eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid dalam sebuah pernyataan.

UNHCR juga meminta pemerintah agar membiarkan penumpang kapal turun, menunjuk pada tidak layaknya kapal itu.

Badruddin Yunus, seorang pemimpin komunitas nelayan setempat, mengatakan kepada AFP bahwa nelayan yang mengunjungi kapal tersebut melaporkan ada 120 orang di dalamnya, termasuk 51 anak-anak dan 60 wanita.

Dia mengatakan mesin rusak dan para pengungsi tidak bisa berkomunikasi dengan nelayan setempat karena kendala bahasa.

Tahun lalu, ratusan etnis Rohingya yang melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha tiba di Indonesia. Banyak di antara mereka telah melarikan diri ke Malaysia.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya