Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Studi: Orang Inggris dan Asia Selatan Punya Gen yang Lebih Berisiko Terkena Covid-19

SELASA, 28 DESEMBER 2021 | 17:39 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Chulabhorn Royal Academy Thailand menyimpulkan alasan jumlah infeksi Covid-19 di Inggris dan Asia Selatan begitu tinggi.

Dari unggahan di Facebook pada Senin (27/12) yang dikutip The Star, akademi itu menyebut kemungkinan tingginya infeksi Covid-19 pada orang-orang Inggris dan Asia Selatan terletak pada gen LZTFL1.

Menurut situs web Nature Genetics, gen LZTFL1 diyakini sebagai gen yang berisiko membuat paru-paru lebih rentan terhadap virus corona dan menggagalkan mekanisme perlindungan utama yang biasanya digunakan sel-sel yang melapisi paru-paru untuk melindungi diri dari Covid-19.


"Bentuk destruktif dari gen LZTFL1 ditemukan hingga 60 persen  pada orang keturunan Asia Selatan, 15 persen orang keturunan Eropa, 2,4 persen pada orang Afrika, dan 1,8 persen pada orang Asia Timur,” tulis akademi.

“Latar belakang ras yang membawa versi gen berisiko tinggi melipatgandakan risiko kematian akibat Covid-19," tambah mereka diunggahan tersebut.

Menurut penelitian, ketika sel-sel yang melapisi paru-paru berinteraksi dengan virus corona, salah satu strategi pertahanannya adalah berubah menjadi sel yang kurang terspesialisasi dan menjadi kurang ramah terhadap virus.

Proses de-spesialisasi ini mengurangi jumlah protein kunci yang disebut ACE-2 pada permukaan sel, yang merupakan kunci virus corona yang menempel pada sel.

Namun untuk orang dengan versi gen LZTFL1 yang berisiko, proses ini tidak bekerja dengan baik, dan sel-sel paru-paru dibiarkan rentan terhadap virus.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa pasien dengan ekspresi gen LZTFL1 yang rendah memiliki risiko lebih rendah terhadap invasi virus corona di paru-paru mereka. Sementara versi yang lebih tinggi dari ekspresi gen LZTFL1 menggagalkan transformasi sel dan membuat paru-paru rentan terhadap infeksi.

Disebutkan, gen tersebut menggandakan risiko kematian seseorang akibat Covid-19, lebih buruk daripada penyakit jantung koroner dan diabetes. Gen LZFTL1 juga dapat mempengaruhi orang di bawah usia 60 tahun.

Untuk itu, profesor emeritus Genetika Klinis di King's College London, Prof Frances Flinter menyimpulkan, sangat penting untuk memvaksinasi komunitas yang berisiko lebih besar terkena infeksi Covid-19 serius karena gen ini.

Itu lantaran ia mengatakan peningkatan risiko ini dapat digugurkan dengan vaksinasi.

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

UPDATE

Jokowi Sedang Menciptakan Musuh Sendiri Lewat Keliling Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 | 08:17

Jemaah Haji Indonesia Diminta Tertib Menanti Jadwal Kepulangan ke Tanah Air

Minggu, 31 Mei 2026 | 07:44

Turun Gunung Jokowi untuk Gendong Gibran dan Kaesang

Minggu, 31 Mei 2026 | 07:37

Hari Raya Waisak, CFD Jakarta Diliburkan Sementara

Minggu, 31 Mei 2026 | 07:15

IPC TPK Perkuat Konektivitas Perdagangan Indonesia-China

Minggu, 31 Mei 2026 | 06:45

Paradoks Kekayaan Nasional

Minggu, 31 Mei 2026 | 06:23

Polda Jateng Izinkan Personel Tembak Begal di Tempat

Minggu, 31 Mei 2026 | 06:09

Anatomi Pembangunan Kapal Ideal

Minggu, 31 Mei 2026 | 05:41

BGN Tidak Pernah Menunjuk Calo Terkait Pembangunan SPPG

Minggu, 31 Mei 2026 | 05:21

KPK Diminta Jelaskan Arah Pengembangan Kasus Blueray Cargo

Minggu, 31 Mei 2026 | 05:04

Selengkapnya