Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pengamat Inggris: Siapa Berani Memukul China, Akan Dibalas Lebih Keras oleh Beijing

SENIN, 27 DESEMBER 2021 | 06:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tindakan keras ekonomi dan diplomatik yang dilakukan oleh China kepada Lithuania menunjukkan betapa kerasnya negara itu melakukan perlawanan balik kepada mereka yang menentangnya terkait urusan Taiwan.

Dalam op-ed nya yang dimuat media Rusia RT, penulis yang analis politik dan hubungan internasional Inggris dengan fokus utama di Asia Timur, Tom Fowdy, menyoroti sikap keras China yang dilakukan kepada Lithuania baru-baru ini terkait masalah Taiwan yang dikatakannya sebagai salah satu drama politik paling terkenal di tahun 2021.

Sikap keras Beijing diawali dengan deklarasi negara Baltik yang menyatakan bahwa mereka akan membuka “kantor perwakilan Taiwan” di negaranya. Beijing mengecamnya sebagai pelanggaran terhadap kebijakan Satu China, khususnya atas penggunaan kata Taiwan.


Beijing memperjelas bahwa langkah itu tidak dapat diterima, dan melanjutkan untuk menurunkan hubungannya dengan negara itu tidak hanya sekali, tetapi dua kali, mengusir duta besarnya, sejumlah diplomat, dan mengurangi hubungan ke tingkat kuasa usaha.

Tidak hanya itu, China juga telah melakukan sanksi ekonomi terhadap Lithuania. Negara itu dilaporkan dicoret dari daftar pabean China untuk sementara, dan Beijing telah mengatakan kepada perusahaan multinasional bahwa mereka dilarang melakukan ekspor ke Lituania.

Langkah China terhadap Lithuania itu tidak lepas dari perhatian Amerika Serikat. Balasan yang diberikan China kepada siapa pun yang 'melukai' negara itu, digambarkan oleh lingkaran Washington sebagai bentuk penindasan ekonomi.

"Ini adalah istilah yang sinis, juga menyesatkan. Ketika China melakukan pembalasan terhadap negara-negara yang menyakitinya, maka AS menggunakan istilah itu. Namun, bagaimana dengan AS sendiri yang dikenal sebagai rezim sanksi? Rezim sanksi AS begitu brutal terhadap banyak negara," tulis Fowdy.

Selain AS, muncul pula tuntutan agar negara-negara UE lainnya berdiri dalam solidaritas dengan Lithuania, menggunakan retorika demokrasi dan nilai-nilai bersama.

Fowdy dalam catatannya juga menyoroti percakapan Xi Jinping dengan pemimpin baru Jerman, Olaf Scholz, beberapa hari lalu. Dalam percakapan itu, keduanya sepakat ingin memperdalam hubungan ekonomi, dan Olaf secara gamblang mengatakan ingin memperkuat hubungan dengan China dan menegaskan perjanjian komprehensif tentang investasi (CAI).

"(Percakapan Xi dan Olaf) itu agaknya menjadi bagian pertama dari berita buruk bagi AS, yang menuntut agar kanselir baru akan mengambil garis yang lebih keras terhadap Beijing," kata Fowdy.

Fowdy mengatakan, tindakan keras Beijing terhadap Lithuania dilakukan sebagai contoh bagi negara lain agar tidak mengikuti langkah yang sama.

"Beijing bertindak keras untuk mencegah negara lain mengikuti jejak itu. Kebijakan China tidak dapat dinegosiasikan, dan kedaulatan harus selalu didahulukan," katanya.

Lithuania sejauh ini sengaja melakukan tindakan provokatif terhadap China atas dorongn AS, seperti misalnya keputusannya untuk menarik diri dari blok 17+1 dengan China awal tahun ini.

Akibatnya, China telah melakukan upaya yang belum pernah dilakukan sebelumnya kepada negara itu, untuk menunjukkan kepada negara-negara lain konsekuensi dari pelanggaran komitmen diplomatik mereka, yang jauh melampaui kecaman retoris.

Bagi Fowdy, pesan China sudah jelas: “Jika Anda memukul kami, kami akan membalas lebih keras.”

Apakah China siap untuk memperebutkan posisinya di Taiwan? Fowdy tegas mengatakan, "Ya, tidak perlu diragukan lagi!"

Apakah Uni Eropa bersedia dan siap untuk bersatu sepenuhnya melawan mitra dagang terbesarnya ketika sudah berada dalam situasi ekonomi yang rapuh? "Tidak mungkin," tegas Fowdy.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya