Berita

Ketua Prodi Fakultas Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Tatok Sudiarto/Net

Politik

Indonesia Perlu Meredefinisi Ulang Tujuan Diplomasi, Kuasai Pasar China

KAMIS, 23 DESEMBER 2021 | 00:35 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pemerintah China mengancam seluruh negara-negara yang berada di dekat Perairan Natuna Utara dengan menebar beberapa material militer untuk mengklaim wilayah tersebut. Padahal, secara terang-terangan PBB telah mengeluarkan UNCLOS 82.

Menanggapi persoalan tersebut, Ketua Prodi Fakultas Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Tatok Sudiarto menyampaikan, adanya perseteruan tersebut lantaran perspektif China mengenai hukum kelautan yang berlaku berbeda.

"Ada perbedaan perspektif jika masuk pada pembahasan soal Natuna. China tidak mengakui UNCLOS 82 tetapi hanya mengakui garis 9 dashline, membuat China harus bersengketa dengan negara-negara yang berbatasan dengan laut Natuna Utara," ucap Tatok dalam acara diskusi virtual bertemakan Evaluasi Kebijakan Luar Negeri dan Diplomasi RI, Selasa malam (21/12).


Dari sisi itu, kata Tatok, ada beberapa indikator yang harus dikejar pemerintah. Yaitu mengubah diplomasi yang dilakukan Indonesia. Contohnya, bagaimana sikap Indonesia bisa merebut pasar China di negara-negara yang selama ini kurang dihiraukan, karena untuk masuk ke sana membutuhkan cost tidak sedikit.

"Namun sekarang, Indonesia harus mampu merebut pasar di negara-negara tersebut. Terutama untuk produk yang berbasis ekonomi kreatif dan ekonomi digital," tuturnya.

Menurutnya, pada kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini pemerintah perlu mengatur ulang tujuan dari diplomasi Indonesia dengan forum luar negeri.

"Pandemi membuat kita harus meredefinisi ulang tujuan bahwa penguatan-penguatan ke dalam adalah source yang bagus sebagai modal diplomasi Indonesia ke luarnegeri. 17 SDG’s yang diperjuangkan oleh global society merupakan bahan bagus," katanya.

"Penyesuaian di dalam negeri juga harus dilakukan. Bukan menjadi masyarakat yang tersertifikasi global, tetapi pebaian-perbaikan yang diharapkan baik untuk kemanusiaan dan perkembangan untuk bisa bersahabat dengan negara perlu terus dibina," tutupnya.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya