Berita

Ilustrasi lambang Nahdlatul Ulama/Net

Politik

MUKTAMAR NU

Hiruk Pikuk Muktamar Tak Boleh Ganggu Konsolidasi NU

SELASA, 21 DESEMBER 2021 | 16:33 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kompetisi untuk mendapatkan kursi Ketua Umum PBNU semakin menarik. Polarisasi dukungan antara petahana KH Said Aqil Siroj dan Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mulai menyebar dengan kehadiran KH As'ad Said Ali yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketum PBNU pada 2010 hingga 2015 lalu.

Melihat adanya persaingan ketat antara ketiga calon tersebut, pengamat politik Islam Yon Machmudi berharap, perbedaan pendapat yang ada saat ini tidak mempengaruhi fungsi NU.

"Kalau kita lihat sekarang, belakangan menguat adalah Ketua PBNU Kiai Said yang mencalonkan kembali. Kedua, ada putusan melakukan regenerasi dengan calon baru ada Gus Yahya. Ada yang melihat itu polarisasi yang cukup dalam," jelasnya kepada Kantor Berita Politik RMOL pada Selasa (21/12).


Di sisi lain, Ketua Kajian Timur Tengah di Universitas Indonesia menilai, kehadiran Kiai As'ad menjadi calon alternatif di tengah hiruk pikuk pencalonan.

Lebih lanjut, ia berharap, Muktamar NU yang digelar di Lampung pada 22-23 Desember ini dapat berjalan lancar tanpa banyak perbedaan pendapat yang mencolok.

Alih-alih, hajat organisasi Islam terbesar di Indonesia itu dapat melahirkan pemimpin yang berorientasi masa depan, dengan keputusan-keputusan untuk menangani masalah nasional dan global.

"Yang jelas adalah hiruk pikuk itu tidak mengurangi konsolidasi NU dalam memerankan fungsi yang cukup penting tidak hanya di Indonesia, namun juga dunia," pungkasnya.

Gelaran Muktamar NU diperkirakan diikuti sekitar 2.295 peserta yang berasal dari 34 PWNU, 521 PCNU, 31 PCINU, 14 badan otonom, dan 18 lembaga tingkat pusat.

Dihadiri juga oleh unsur syuriah, mustasyar, a'wan, dan tanfidziyah, serta panitia nasional dan lokal.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya