Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Terbukti Gunakan Bahan Kadaluarsa, Starbucks China Minta Maaf

SELASA, 14 DESEMBER 2021 | 07:46 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pihak Starbucks akhirnya meminta maaf dan menegaskan akan melakukan inspeksi serta pelatihan kepada para staf  di sekitar 5.400 tokonya di China setelah muncul laporan yang mengatakan bahwa gerai kopi asal AS itu menggunakan bahan kadaluarsa.

Permintaan maaf datang setelah surat kabar Beijing News, dalam apa yang digambarkan sebagai penyelidikan rahasia, melaporkan kasus penggunaan bahan kadaluarsa di dua toko di kota Wuxi, China Timur.

Laporan Beijing News mengatakan salah satu toko Starbucks menggunakan cairan matcha kadaluarsa untuk membuat latte, sementara yang lain menjual kue kering yang seharusnya dibuang.


Pihak Starbucks awalnya mengatakan bahwa mereka telah menutup kedua toko tersebut dan sedang melakukan penyelidikan.

Kemudian pada Senin (13/12) Starbucks mengatakan bahwa kedua toko itu memang melakukan pelanggaran dan bahwa perusahaan tidak cukup memperhatikan standar keamanan pangan.

"Kami dengan tulus meminta maaf kepada semua pelanggan Starbucks," kata pihak perusahaan dalam sebuah pernyataan di akun resmi Weibo, seperti dikutip dari CNN, Selasa (14/12)

Administrasi Pengawasan Pasar Wuxi juga mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin malam bahwa setelah melakukan penyelidikan pada dua toko yang terlibat dalam insiden tersebut, pihaknya juga melakukan pemeriksaan pada 82 gerai Starbucks lainnya yang berada di kota tersebut.

Usai penyelidikan pihak berwenang menemukan tital 15 masalah, termasuk karyawan yang tidak menerapkan standar berpakaian dan desinfeksi tidak lengkap.

Laporan tersebut menjadi viral di antara warganet China. Mereka mengungkapkan kekecewaan dan kekhawatiran atas masalah tersebut.

 "Jika Starbucks seperti ini, toko-toko lain benar-benar mengkhawatirkan saya," kata salah satu pengguna Weibo bernama Revario.  

"Mereka menderita pengawasan karena itu adalah merek asing," ujarnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya