Berita

Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Luqman Hakim/Net

Politik

Cegah Kekacauan pada Pemilu 2024, Legislator PKB Minta KPU Pastikan Aman dari Serangan Hacker

KAMIS, 09 DESEMBER 2021 | 10:56 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI harus bisa memastikan istitusi mereka aman dari serangan siber hingga upaya peretasan. Terutama ketika menjelang berjalannya tahapan Pemilu 2024.

"Sebagai penyelenggara pemilu, sistem teknologi informasi yang dimiliki KPU harus bisa dipastikan aman dari berbagai bentuk serangan dan pembobolan," ucap Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Luqman Hakim, di Jakarta, Kamis (9/12).

Luqman pun mengingatkan kasus peretasan yang dialami laman KPU Provinsi Jawa Timur beberapa waktu lalu. Kala itu, peretas mengunggah tampilan terkait dengan kasus bunuh diri mahasiswi berinisial NW.


Menurut legislator asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, KPU harus membangun sistem keamanan IT dengan baik karena terkait erat dengan kepercayaan publik terhadap kinerja institusi tersebut. Terutama ketika nanti berhubungan dengan informasi-informasi hasil Pemilu dan Pilkada.

"Semua pihak, terutama KPU dan Pemerintah, harus mengambil pelajaran dari peristiwa peretasan situs KPU Provinsi Jawa Timur dengan terus-menerus memperkuat kemampuan sistem keamanan teknologi informasi," tuturnya.

Luqman juga menegaskan, kasus peretasan harus diantisipasi sejak dini. Jangan sampai muncul kekacauan sosial dan politik akibat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi hasil pemilu yang dikelola KPU.

Ia juga meminta KPU bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) membangun kerja sama dengan perusahaan-perusahaan keamanan teknologi informasi yang sudah diakui dunia.

Terakhir, Luqman juga memintan dilakukan pengujian atas sistem teknologi informasi sebelum secara resmi digunakan oleh KPU.

"Kalau perlu dengan membuat sayembara terbuka uji serangan atau pembobolan sehingga kalau masih ada celah atau bug dapat diperbaiki lebih dini," demikian Luqman Hakim.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Pembongkaran Tiang Monorel Mangkrak Demi Penataan Kawasan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:59

Lahan Huntap Korban Bencana Harus Segera Dituntaskan

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:52

Ini Identitas Delapan Orang dan Barbuk OTT Pejabat Pajak Jakut

Minggu, 11 Januari 2026 | 07:12

Larangan Tambang Emas Rakyat, Kegagalan Baca Realitas

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:58

Pelapor Pandji Dianggap Klaim Sepihak dan Mencatut Nama NU

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:30

Romantisme Demokrasi Elektoral dan Keliru Baca Kedaulatan

Minggu, 11 Januari 2026 | 06:08

Invasi AS ke Venezuela Bisa Bikin Biaya Logistik Internasional Bengkak

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:45

Khofifah Ajak Pramuka Jatim Sukseskan Ketahanan Pangan dan MBG

Minggu, 11 Januari 2026 | 05:23

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Klok Dkk Siap Melumat Persija Demi Amankan Posisi

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:40

Selengkapnya