Berita

Warga berbaris di tempat pengujian asam nukleat selama pengujian massal di seluruh kota menyusul kasus baru Covid-19 di Wuhan, provinsi Hubei, Cina, pada 3 Agustus 2021/Net

Dunia

Ahli: Tidak Seperti Negara Lain, Hidup dengan Covid-19 Bukan Pilihan Bagi China

SELASA, 07 DESEMBER 2021 | 10:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Jika sebagian negara sudah memutuskan untuk hidup berdampingan dengan Covid-19, tidak demikian dengan China. Begitu disampaikan Liang Wannian, mantan pejabat Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok.

Menurutnya, China tidak dapat "hidup dengan Covid-19", karena itu akan menyebabkan sejumlah besar penyakit parah dan kematian serta masalah politik utama. Liang mengatakan bahwa meskipun hanya sebagian kecil orang yang terinfeksi yang sakit parah atau meninggal, hal itu akan tetap berpengaruh pada 1,4 miliar penduduk China secara keseluruhan.

“Anda dapat membayangkan berapa banyak yang akan sakit parah atau meninggal. Ini akan menjadi epidemi besar, masalah kesehatan masyarakat, sosial dan politik yang besar,” kata Liang kepada penyiar pemerintah China Central Television pada Minggu malam, seperti dikutip dari SCMP, Selasa (7/12).


“Itu harus dikendalikan dan penularan tidak boleh menyebabkan begitu banyak penyakit serius dan kematian,” katanya.

Respons tanpa toleransi yang masih diterapkan China untuk mengendalikan virus diakui Lang menimbulkan kelelahan di masyarakat, mengingat hal itu sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya.

Namun, Liang mengatakan bahwa ketidakpuasan tidak menyelesaikan masalah apa pun dan China tidak akan mengikuti jalan negara-negara yang memilih untuk ‘berbaring datar’ - sebuah ungkapan China  untuk menyerah.

“Kita tidak bisa melakukan itu dari posisi budaya Tiongkok, konsep pemerintahan Partai Komunis Tiongkok, atau sains,” kata Liang.

“Apakah menurut Anda dunia tidak ingin mengikuti contoh China? Tetapi untuk mencapai hasil pencegahan dan pengendalian seperti yang dimiliki China, dibutuhkan kombinasi banyak elemen, bukan hanya satu ukuran atau satu strategi, untuk bekerja,” ujarnya.

Dia mengatakan negara yang berbeda mendasarkan strategi mereka pada prioritas yang berbeda, termasuk kebebasan dan kualitas hidup, ukuran kapasitas perawatan kesehatan seperti jumlah staf dan tempat tidur unit perawatan intensif.

Dia mengatakan "superioritas sistem sosialis" memungkinkan pemerintah untuk menyinkronkan upaya dari atas ke bawah dengan cara yang "sulit dicapai oleh banyak negara".

China tidak akan takut dengan munculnya varian seperti Omicron, dan akan memperlakukannya seperti tahapan permainan video yang harus dilalui, kata Liang.

“Virus corona akan terus bermutasi dan itu normanya,” katanya.

“Kita tidak boleh berangan-angan bahwa penularan dan patogenisitasnya akan melemah. Sebaliknya, kita harus menyadari bahwa virus itu sangat rumit dan akan ada untuk waktu yang sangat lama,” kata dia lagi.

Liang mengatakan secara teori vaksin seharusnya masih membantu mencegah penyakit serius dan kematian, tetapi orang harus bersiap untuk inokulasi seumur hidup untuk mempertahankan kekebalan, mengingat tiga dosis saja tidak akan cukup.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya