China tengah berusaha untuk membangun markas militer permanen pertamanya di Samudra Atlantik. Bahkan Beijing sudah melirik Guinea Khatulistiwa sebagai target potensialnya.
Rencana tersebut diungkap dari informasi intelijen rahasia Amerika Serikat (AS) yang dimuat dalam laporan The Wall Street Journal.
Dijelaskan, kehadiran China di pantai Atlantik Afrika akan meningkatkan kemungkinan ancaman terhadap AS. Pasalnya kapal perang China akan berada di seberang Pantai Timur.
Berbicara kepada Senat pada April lalu, Komandan Komando AS di Afrika, Jenderal Stephen Townsend mengatakan, ancaman paling signifikan dari China adalah fasilitas angkatan lautnya di pantai Atlantik Afrika.
"Bukan hanya sekadar tempat di mana mereka dapat melakukan panggilan pelabuhan dan mendapatkan gas atau bahan makanan. Tapi pelabuhan di mana mereka dapat mempersenjatai kembali dengan amunisi dan memperbaiki kapal angkatan laut," jelasnya.
Penasihat keamanan nasional untuk Presiden Joe Biden, Jon Finer sendiri telah melakukan perjalanan ke Guinea Khatulistiwa pada Oktober lalu untuk meyakinkan Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo dan putranya, Wakil Presiden Teodoro “Teodorin†Nguema Obiang Mangue untuk menolak proposal China.
“Sebagai bagian dari diplomasi kami untuk mengatasi masalah keamanan maritim, kami telah menjelaskan kepada Guinea Khatulistiwa bahwa langkah-langkah potensial tertentu yang melibatkan aktivitas (China) di sana akan meningkatkan masalah keamanan nasional,†kata seorang pejabat senior pemerintahan Biden.
Obiang adalah presiden terlama di dunia, setelah memerintah selama lebih dari 40 tahun. Human Rights Watch dan kelompok-kelompok lain telah mengeluhkan represi yang dilakukan aparat terhadap masyarakat sipil selama masa pemerintahannya.
Bahkan banyak pihak menyoroti korupsi yang dilakukan oleh para pejabat tinggi di sana.