Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

China Makin Mendominasi Tibet, Mayoritas Pejabat Daerah Saat Ini Berasal dari Etnis Han

JUMAT, 03 DESEMBER 2021 | 08:58 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

China semakin menguasai Tibet. Sebuah laporan bahkan menyebutkan mayoritas pejabat pemerintahan di Tibet telah diisi oleh etnis Han.

Data dari pemerintah China menunjukkan, hanya empat dari 15 posisi kepala dan wakil kepala administrasi di ibukota Lasha yang saat ini dipegang oleh orang Tibet.

Terbaru, pada 19 Oktober, Wang Junzheng yang dipilih Beijing telah dilantik sebagai sekretaris partai di Tibet.


Mengutip sumber-sumber, Radio Free Asia menyebut semakin banyaknya etnis Han yang menguasai Tibet, hingga lebih dari 2 berbanding1, merupakan sebuah indikasi bahwa Beijing berusaha mendominasi wilayah tersebut.

Seorang warga Tibet mengatakan, status Tibet sebagai Daerah Otonomi China sudah tidak memiliki arti.

"Mereka mulai menggunakan Bahasa Mandarin sekarang sebagai bahasa resmi di semua kantor administrasi di Lhasa, dan 70 persen individu yang memegang posisi lebih tinggi di sana tidak tahu cara membaca atau menulis dalam bahasa Tibet,” kata seorang sumber.

“Yang lebih memprihatinkan adalah kenyataan bahwa 60 persen populasi Lhasa sekarang adalah orang China,” tambahnya.

Direktur Institut Kebijakan Tibet Dharamsala yang berbasis di India, Dawa Tsering, mengatakan, orang Tibet lebih terwakili dalam posisi kepemimpinan di wilayah Tibet pada 1970-an dan awal 1980-an.

Seharusnya, ia mengatakan, 70 persen petinggi diambil alih orang Tibet, dan 30 persen diambil oleh orang China. Namun situasi justru berbalik dalam beberapa tahun ke belakang.

Hal itu, lanjutnya, didorong oleh aturan Beijing yang harus menggunakan Bahasa Mandarin di Tibet.

"Semua kebijakan ini memungkinkan pemerintah China untuk mengejar agenda politiknya menghancurkan identitas Tibet,” ucapnya.

Dalam pernyataan 20 Oktober, Kampanye Internasional untuk Tibet yang berbasis di Washington menyerukan tekanan internasional yang kuat terhadap pemimpin partai Tibet yang baru diangkat, Wang Junzheng.

Wang sendiri telah mendapat sanksi dari Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris karena pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

“Ini mencerminkan kenyataan bahwa meskipun lebih dari 60 tahun pendudukan, Partai Komunis China belum mampu memenangkan hati dan pikiran rakyat Tibet,” kata kelompok itu dalam pernyataannya.

Dulunya merupakan negara merdeka, Tibet diserbu dan dimasukkan ke China dengan paksa 70 tahun yang lalu. Setelahnya, China berusaha membatasi kegiatan politik orang Tibet, sementara dugaan pelanggaran HAM juga bermunculan.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

Habib Syakur Kritik Elite Politik: Demokrasi Jangan Dijadikan Arena Gaduh

Senin, 18 Mei 2026 | 10:20

MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pengamat Sebut IKN Hanya Ambisi Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 10:02

Pakar Soroti Masalah Struktural yang Hambat Investasi Asing ke RI

Senin, 18 Mei 2026 | 09:56

Polemik Muktamar Mathla’ul Anwar Berlanjut ke Pengadilan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:51

IHSG Ambles 190 Poin, Rupiah Terpukul ke Rp17.661 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 09:47

Emas Antam Turun di Awal Pekan, Termurah Rp1,4 Juta

Senin, 18 Mei 2026 | 09:32

Prabowo Tekankan Pangan Harga Mati, Siap Disalahkan Jika Rakyat Kelaparan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:22

Awal Pekan, Dolar AS Masih Perkasa di Level 99 Setelah Reli Sengit Akhir Pekan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:14

Harga Minyak Dunia Makin Naik, Kembali Sentuh 110 Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 08:44

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

Senin, 18 Mei 2026 | 08:18

Selengkapnya