Berita

Kurt Campbell/Net

Dunia

Diplomat AS: China Bertekad Membuat Australia Bertekuk Lutut Lewat Perang Ekonomi

KAMIS, 02 DESEMBER 2021 | 08:32 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejumlah sanksi yang diterapkan China kepada Australia dalam beberapa tahun terakhir telah mendapat kritikan keras dari diplomat veteran AS Kurt Campbell.

Dalam sambutannya kepada Lowy Institute yang berbasis di Sydney baru-baru ini, utusan utama Pasifik Presiden AS Joe Biden itu menuduh China berusaha membuat Australia bertekuk lutut melalui rentetan sanksi yang setara dengan 'perang ekonomi'.

Menggambarkan China sebagai negara yang mempunyai tekad untuk memaksakan kehendaknya di luar negeri, Campbell mengatakan Beijing telah terlibat dalam perang ekonomi yang sangat dramatis, yang diarahkan terhadap Australia.


"Preferensi China adalah menghancurkan Australia. Membuat Australia bertekuk lutut," kata Campbell, yang saat ini menjabat sebagai koordinator Indo-Pasifik Gedung Putih, seperti dikutip dari AFP, Kamis (2/11).

Pernyataan Campbell merujuk pada pemberlakuan serangkaian sanksi yang dijatuhkan China selama dua tahun terakhir terhadap barang-barang Australia dalam perselisihan politik sengit yang telah membekukan kontak menteri dan menjerumuskan hubungan kedua negara ke dalam krisis paling serius sejak Tiananmen.

Jelai Australia, batu bara, bijih tembaga, kapas, jerami, kayu gelondongan, lobster batu, gula, anggur, daging sapi, buah jeruk, biji-bijian, anggur meja, produk susu, dan susu formula, semuanya telah dikenakan sanksi Tiongkok.

Sanksi-sanksi itu sebagai akibat dari kemarahan China sejak Australia melarang keterlibatan Huawei dari kontrak 5G dan setelah negara itu menyerukan penyelidikan independen tentang asal-usul pandemi virus corona.

"Di bawah Presiden Xi Jinping , China telah menjadi lebih tegas, lebih bertekad untuk mengambil langkah-langkah yang pada dasarnya akan dilihat oleh negara lain sebagai pemaksaan," kata Campbell.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya