Berita

Pasukan keamanan Afghanistan/Net

Dunia

Human Rights Watch: Puluhan Mantan Tentara Afghanistan Jadi Target Pembunuhan Balas Dendam Taliban

SELASA, 30 NOVEMBER 2021 | 14:46 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Serangkaian pembunuhan dan eksekusi dilaporkan terjadi dengan menargetkan mantan anggota pasukan keamanan Afghanistan setelah Taliban berkuasa pada pertengahan Agustus lalu.

Sebuah laporan terbaru dari Human Rights Watch (HRW) yang dirilis pada Selasa (30/11) mengungkap lebih dari 100 mantan anggota pasukan keamanan Afghanistan telah "dihilangkan" atau dibunuh sebagai aksi balas dendam.

Dirinci, pembunuhan dan penghilangan paksa terjadi pada 47 anggota pasukan keamanan yang bekerja di bawah pemerintahan mantan Presiden Ashraf Ghani.


Aksi tersebut dikatakan terjadi dari 15 Agustus hingga 31 Oktober di empat dari 34 provinsi di Afghanistan, yaitu Ghazni, Helmand, Kandahar, dan Kunduz.

HRW mengatakan Taliban bertanggung jawab atas kematian dan penghilangan setidaknya 53 mantan anggota pasukan keamanan di provinsi yang sama.

"Amnesti yang dijanjikan pimpinan Taliban tidak menghentikan komandan lokal untuk mengeksekusi atau menghilangkan mantan anggota pasukan keamanan Afghanistan," direktur HRW untuk Asia, Patricia Gosswan, seperti dikutip New York Post (NYP).

Menurut Gossman, pembunuhan tersebut merupakan upaya sengaja yang dilakukan Taliban untuk menghancurkan para pemberontak dan mereka yang menjadi ancaman bagi pemerintahan baru.

"Beban ada pada Taliban untuk mencegah pembunuhan lebih lanjut, meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab, dan memberi kompensasi kepada keluarga korban," lanjut HRW.

Laporan HRW sendiri memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan hidup para aktivis, jurnalis, dan kritikus Taliban.

Sementara itu, jurubicara Taliban Inamullah Samangani mengatakan tindakan pembunuhan dan penghilangan terhadap mantan anggota pasukan keamanan Afghanistan bukan kebijakan pihaknya.

Sebaliknya, Samangani mengatakan beberapa mantan anggota pasukan keamanan Taliban justru ditindaklanjuti secara hukum.

"Kami berkomitmen penuh pada amnesti yang telah kami umumkan. Kami belum memiliki sistem keamanan, dan beberapa orang memanfaatkan kekosongan ini, menyalahgunakan nama Imarah Islam, dan melakukan pembunuhan semacam itu," jelasnya.

"Pembunuhan balas dendam bukan untuk kepentingan pemerintah kita. Pembunuhan itu berbahaya bagi reputasi Imarah Islam pada saat kritis ini," pungkas ini.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya