Berita

Perdana Menteri Imarah Islam Afghanistan, Mullah Mohammad Hassan Akhund/Net

Dunia

Pidato Pertama, PM Afghanistan Ingin Jalin Hubungan Baik dengan Semua Negara

MINGGU, 28 NOVEMBER 2021 | 06:57 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perdana Menteri Imarah Islam Afghanistan, Mullah Mohammad Hassan Akhund akhirnya tampil di hadapan publik dan memberikan pidato untuk pertama kalinya.

Pidato Akhund disiarkan di televisi hanya dengan audio pada Sabtu malam (27/11), seperti dikutip TOLO News.

Dalam pidatonya, Akhund menyoroti berbagai isu, termasuk perjuangan Taliban melawan Amerika Serikat (AS), kemiskinan, keamanan, dan hubungan antara Afghanistan dengan negara-negara lain, baik di kawasan maupun dunia.


Akhund mengatakan, Taliban telah memenuhi janji untuk melanjutkan pertempuran sampai pemerintahan Islam berkuasa di Afghanistan.

Terkait masalah ekonomi, Akund menekankan, krisis yang terjadi di Afghanistan sudah terjadi bahkan sebelum Taliban berkuasa. Namun ia mengatakan, jika aset bank sentral Afghanistan dicairkan oleh asing, maka masalah ekonomi akan teratasi.

Lewat kesempatan tersebut, Akund menekankan, Imarah Islam Afghanistan ingin memiliki hubungan baik dengan semua negara. Ia juga menegaskan pihaknya tidak akan ikut campur dalam urusan internal negara mana pun.

Dia juga meminta masyarakat internasional untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan mereka kepada rakyat Afghanistan.

Menunjuk situasi keamanan, sang perdana menteri mengatakan dia menerima laporan bahwa beberapa orang memasuki rumah orang dan membuat kekacauan. Dia mengatakan orang-orang itu bukan bagian dari Imarah Islam dan meminta pihak berwenang untuk menghentikan kegiatan semacam itu di negara itu.

Mengenai hak-hak perempuan dan pendidikan anak perempuan, dia mengatakan Imarah Islam telah memberikan hak-hak mereka kepada perempuan, menambahkan bahwa mereka bekerja untuk memperbaiki situasi pendidikan anak perempuan.

Dia juga mengatakan pemerintah saat ini lebih inklusif daripada pemerintah sebelumnya, mengatakan bahwa di pemerintahan sebelumnya kekuasaan berada di tangan sejumlah individu terbatas.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

Besok Pantura Jateng Diprediksi Banjir Rob Lebih Lama

Minggu, 14 Juni 2026 | 22:22

Turun Ke Kupang, Komut Pertamina Pastikan Pasokan Energi di Perbatasan Aman

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:47

Prabowo Terima Laporan Rosan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:40

Masyarakat Harus Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:26

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri di Kertanegara, Bahas Apa?

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:21

Ketum PKB: Politik Bukan Cuma Rebutan Kekuasaan!

Minggu, 14 Juni 2026 | 21:19

Wakapolri dan Akpol '90 Bakti Sosial dan Kesehatan Gratis

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:49

Tuan Guru Batak Kecam Eks Ketua BEM UGM yang Diduga Hina Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:32

PKB Jabar Fest Siapkan Kader Muda jadi Pemimpin Masa Depan

Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31

KPK Buka Fakta Viral Foto Tumpukan Uang Valas Silmy Karim

Minggu, 14 Juni 2026 | 19:53

Selengkapnya