Berita

Pemerhati isu strategis dan mantan Dutabesar Indonesia untuk China, Prof Imron Cotan/Net

Politik

Indonesia Bangsa Bhinneka yang Tak Ekstrem ke Kiri dan Kanan

SELASA, 16 NOVEMBER 2021 | 09:28 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kedudukan Bangsa Indonesia di mata dunia sejauh ini masih akomodatif dan tidak berpihak kepada kubu manapun, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

Proses pembentukan Indonesia sebagai sebuah bangsa sudah dimulai sejak masa kolonial Belanda di abad 18 dan terus belanjut hingga memasuki masa pergerakan nasional di abad 20. Muaranya, adalah saat Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Hal itu dikatakan pemerhati isu strategis, Prof Imron Cotan dalam Webinar Moya Institute bertajuk 'Momentum Hari Pahlawan: Peneguhan Kembali Nasionalisme', Senin (15/11).


"Sebagai negara kepulauan yang berada di dua samudera dan dua benua, Indonesia juga memiliki ciri khas berbeda dengan negara-negara kontinental, seperti AS, China, dan Australia. Posisi geografis ini membuat bangsa kita cenderung akomodatif. Tidak ekstrim ke kiri atau ke kanan," kata Prof Imron Cotan.

Mantan Dutabesar Indonesia untuk China ini menjabarkan, peristiwa Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang ditetapkan sebagai Hari Pahlawan merupakan 'tes' pertama sebagai bangsa dalam menghadapi ancaman.

Apalagi, para pahlawan yang berjuang memperebutkan kemerdekaan saat itu berasal dari berbagai etnis, agama, maupun ras.

"Saya sendiri menemukan dalam makam-makam pahlawan di berbagai kota Indonesia, terdapat makam para pahlawan dari berbagai etnis, ras, dan agama, seperti tercermin pada nama-nama di batu nisan mereka," ujar Cotan.

Sejarah bangsa ini menunjukkan, nasionalisme akan bangkit ketika ada ancaman tertentu, tanpa harus diajari. "Dan Nasionalisme kita memang berbasis kebhinekaan," tambah profesor yang juga pernah menjadi Dutabesar Indonesia untuk Australia itu.

Tantangan bangsa saat ini berbeda. Yang dulunya berjuang melawan penjajah, kini harus tetap berdiri di tengah kemajuan IT, media sosial, dan pandemi. Oleh karenanya, kata dia, diperlukan upaya untuk 'reinvent sense of our nationalism' atau pembaharuan rasa kebangsaan agar Indonesia mampu meraih tahun keemasannya pada 2045 mendatang.

Pada kesempatan yang sama, Psikolog klinis dan forensi yang juga Pegiat Perempuan, Kasandra Putranto menegaskan, bangsa Indonesia sampai sekarang masih menghadapi berbagai 'perang' meski bukan lagi masa penjajahan.

"Kita sedang perang melawan virus Covid-19. Lalu ada juga perang cyber, perang biochemical, dan ada juga perang ideologi, ketika orang-orang sekarang ini sangat mudah saling menghujat hanya karena perbedaan pandangan politik," tandasnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya