Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Ahli: Depresi dan Kecemasan Meningkat Selama Pandemi, Berisiko Tinggi Terhadap Masalah Jantung

SENIN, 15 NOVEMBER 2021 | 14:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan telah menciptakan kekhawatiran baru, yaitu meningkatnya orang yang mengalami depresi dan kecemasan. Para peneliti menemukan tingkat depresi dan kecemasan itu memburuk, yang bisa menempatkan orang pada risiko penyakit jantung.

Studi baru oleh Intermountain Healthcare di Salt Lake City menemukan, depresi yang tidak umum selama pandemi yang pada akhirnya membawa orang pada kunjungan ruang gawat darurat untuk kecemasan dan nyeri dada.

Hampir 40 persen pasien melaporkan gejala depresi baru atau berkelanjutan selama tahun pertama pandemi.


“Temuan ini signifikan. Dalam melihat tahun pertama pandemi, kami sudah melihat efek kesehatan mental pada pasien kami,” kata ahli penyakit dalam, Heidi T. May dari Intermountain Healthcare Heart Institute yang sekaligus peneliti utama studi tersebut.

“Kita sudah tahu bahwa depresi meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan penyakit kardiovaskular dan masalah kesehatan kronis lainnya, jadi ini sangat memprihatinkan dan menyoroti pentingnya skrining pasien dan menyediakan sumber daya kesehatan mental yang mereka butuhkan.”

Studi itu membagi dua kelompok; kelompok pertama adalah orang yang tanpa atau tidak lagi menderita depresi, dan kelompok kedua orang yang diidentifikasi dengan gejala depresi. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok pertama 2,8 kali lebih mungkin mengunjungi ruang gawat darurat dan 1,8 kali lebih mungkin mengalami nyeri dada.

“Jika orang menjadi lebih tertekan karena pandemi, dalam beberapa tahun, kita bisa melihat insiden penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi,” kata May, seperti dikutip dari CTV, Minggu (14/11).

Ia berharap para dokter benar-benar menyadari kesehatan mental pasiennya sehingga dapat segera ditangani dan diobati untuk meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan, "dan mudah-mudahan menghindari perkembangan masalah kesehatan berikutnya di masa depan. Ini penting karena pandemi masih belum berakhir,” lanjut May.

Dalam sebuah studi baru-baru ini, para peneliti di Universitas Brigham Young telah menjelaskan lebih jauh tentang seberapa besar dampak dampak pandemi yang paling luas terhadap dunia, yaitu kesepian dan penurunan kesehatan mental.


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya