Berita

Tentara di perbatasan Afghanistam/Net

Dunia

Setelah Melarikan Diri dari Taliban, Keluarga Afghanistan Ini Kembali Bersatu di Kanada

SABTU, 13 NOVEMBER 2021 | 11:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah bertahun-tahun berpisah, kakak beradik asal Afghanistan ini akhirnya bisa kembali berkumpul dalam sebuah pertemuan mengharukan baru-baru ini

Pertemuan yang menguras airmata itu mungkin tidak akan bisa mereka lupakan, sebagaimana mereka tidak pernah melupakan bagaimana mereka berpisah 11 tahun lalu.

Beazhan Hussaini bersatu kembali dengan saudara perempuannya di Edmonton baru-baru ini, setelah ia melarikan diri dari Afghanistan di tengah situasi kacau  pengambilalihan negara oleh Taliban, Agustus lalu.


"Saya sangat senang," kata Hussaini, bercerita kepada CTV National News tentang pertemuannya dengan saudara perempuannya, Nafesa, di Edmonton.

"Anda tahu, kami bertemu dengannya setelah 11 tahun. Bukan hanya saya, tapi seluruh keluarga akhirnya bisa bertemu dengannya, kami semua senang."

Beazhan kemudian bercerita bagaimana ia bisa sampai di Kanada, di negara yang kemudian dia sebut sebagai rumah keduanya.

Pagi itu, ia memulai pekerjaannya di sebuah kantor LSM Kanada di Kabul, seperti hari-hari biasa. Tiba-tiba ia dan seisi kantor terkejut dengan sebuah kabar: Taliban telah berada dekat dengan Kabul setelah menduduki kota-kota lainnya.

Hari indah yang biasa ia jalani selama itu, berubah hanya dalam sekian menit. Sama seperti teman-teman kantornya, ia takut dan panik. Terutama saat itu melihat iring-iringan Taliban di depan kantornya, dengan bendera putih mereka.

"Bagaimana saya bisa pulang ke rumah dengan selamat," katanya.

Hatinya semakin hancur saat semua media mengabarkan bahwa Taliban menduduki istana kepresidenan menyusul keputusan AS untuk menarik pasukan setelah 20 tahun berada di Afghanistan.

Kemudian, ia bercerita bahwa ia mengikuti jejak teman-temannya, mencoba menyelamatkan keluarganya pergi dari Afghanistan.

Susah payah Beazhan membawa keluarga untuk bisa sampai ke bandara Kabul. Namun, situasi bandara yang tegang, kacau, dan mengerikan, membuat ia semakin takut.

"Ibuku bisa saja meninggal, terus terang. Dia tidak bisa masuk ke bandara. Ada kerumunan orang," kata Beazhan.

Mereka kembali ke rumah. Tidak ada harapan untuk bisa pergi dari Afghanistan. Bandara ditutup. Situasi semakin menakitkan dengan banyaknya patroli di mana mana.

"Tanpa harapan, ​​karena semuanya terhalang, Anda tahu. Kabul menangis," katanya.

Mengingat pekerjaannya yang terkait dengan LSM dan pemerintah Kanada, Beazhan sadar, ia bisa menjadi target Taliban. Ia pun mencari cara agar bisa keluar dari Afghanistan segera.

Setelah mendengar cerita keluarga Beazhan, Jaringan Transisi Veteran Kanada memutuskan untuk membantu.

Presiden Dewan Jaringan Transisi Veteran Tim Laidler, mengatakan komitmennya untuk membantu staf kedutaan dan penerjemah beserta keluarga mereka, serta orang-orang yang bekerja untuk LSM Kanada dan memiliki hubungan yang sama dengan pemerintah Kanada.

Pada 5 November, rumah persembunyian Kabul yang menawarkan perlindungan kepada lebih dari 1.700 penerjemah Afghanistan, juru masak, penjaga dan keluarga mereka, ditutup karena kekurangan dana.
Kelompok-kelompok veteran sebelumnya telah mengumpulkan sekitar 2 juta dolas AS dalam sumbangan pribadi, tetapi mengatakan mereka akan membutuhkan 5 juta dolar AS lagi untuk menjaga agar rumah persembunyian tetap terbuka.
Para advokat telah meminta pemerintah federal untuk mempercepat aplikasi keluarga-keluarga itu untuk datang ke Kanada.

Keluarga Beazhan akhirnya berhasil sampai ke Pakistan dengan mobil. Tak lama setelah mereka tiba, adik ipar Beazhan yang ikut dalam upaya pelarian itu, melahirkan seorang gadis.

"Keluarga kami sembilan, sekarang kami 10," kata Beazhan, mengenang perjalanan panjangnya  yang berliku dan penuh haru untuk menggapai masa depan di negara baru.

Setelah tinggal sebentar di Pakistan, Beazhan dan keluarganya berhasil sampai ke Kanada dengan selamat.

Di Kanada, keluarga telah ditawari pekerjaan dan akomodasi. Sementara itu, Beazhan berencana menjadi sukarelawan dengan kelompok dari Universitas British Columbia yang menyediakan perawatan kesehatan mental bagi para pengungsi Afghanistan.

"Saya seperti sedang bermimpi," katanya, sambil mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Jaringan Transisi Veteran dan pemerintah Kanada.

Ia kemudian dibantu untuk bertemu dengan adiknya, yang 11 tahun lalu telah lebih dulu meninggalkan Afghanistan karena ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Perpisahan dengan adiknya ketika itu tentu saja menolehkan kesedihan.

Nafesa yang tinggal di ibu kota Alberta tidak tahu bahwa kakaknya yang tidak pernah dilihatnya selama 11 tahun, berhasil mencapai Kanada. Ia menangis haru bisa memeluk kakaknya lagi, setelah berita pendudukan Taliban di Kabul membuatnya ketakutan akan nasib kakaknya itu.
"Saya tidak tahu harus berkata apa tentang ini," katanya. "Tetap saja, aku tidak percaya mereka ada di sini, mereka ada di depanku."

Beazhan yang kini merasa telah bahagia di Kanada, berjanji akan mengabdikan dirinya untuk negara itu.

"Kami adalah migran yang hebat, dan kami akan tetap hebat untuk negara ini. Ini adalah rumah kedua kami, dan Anda akan melihat di tahun-tahun mendatang kami akan melakukan banyak kontribusi baik untuk membangun negara ini bersama-sama," katanya. 

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya