Anggota DPD RI, Fahira Idris/Ist
Terpilihnya Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia oleh Lembaga Pendidikan, Sains, can Budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tidak lepas dari menggeliatnya pembangunan budaya dan sumber daya manusia dalam beberapa tahun terakhir ini.
Kota Jakarta tidak hanya mengalami pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga diwarnai pembangunan berbagai infrastruktur nonfisik. Terutama sumber daya manusia dan budaya.
Disampaikan anggota DPD RI, Fahira Idris, selama empat tahun terakhir ini terjadi keseimbangan antara pembangunan infrastruktur fisik dan pembangunan nonfisik di Jakarta.
Keseimbangan ini semakin selaras karena berbagai pembangunan infrastruktur fisik di Jakarta juga diarahkan untuk mendukung pembangunan nonfisik, terutama pembangunan sumberdaya manusia dan budaya.
Pembangunan sumberdaya manusia ditujukan mendukung perkembangan kreativitas warga untuk menyokong pembangunan budaya. Mulai dari literasi, musik, kerajinan dan seni daerah, desain, sinema, sastra, seni digital, hingga gastronomi (keterkaitan antara budaya dan makanan sebagai salah satu produk budaya).
“Aktivitas budaya dan perkembangan kreativitas di Jakarta dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini cukup menggeliat karena ada keberpihakan baik anggaran, fasilitas, infrastruktur pendukung dan lainnya dari Pemprov DKI Jakarta. Artinya, sejak perencanaan maupun implementasinya, Jakarta berhasil untuk menempatkan budaya dan kreativitas sebagai jantung pembangunan Kota," ujar Fahira Idris dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/11).
"Akibatnya, semua denyut budaya mulai dari pendidikan, aktivitas literasi mulai dari perpustakaan, toko buku, pusat-pusat budaya, festival sastra, hingga pameran buku, termasuk partisipasi warga bersemai. Ditambah sejarah perkembangan Kota Jakarta terutama sejak zaman kolonial yang sudah menjadi pusat aktivitas literasi membuat kota ini layak diganjar sebagai Kota Sastra Dunia,†imbuh Senator DKI Jakarta ini.
Menurut Fahira, kota-kota di berbagai belahan dunia terutama di negara-negara maju sejak beberapa dekade lalu, dengan cara dan strateginya masing-masing, telah menggunakan budaya sebagai landasan pembangunan baik pembangunan fisik dan terlebih pembangunan sumberdaya manusianya.
Di kota-kota seperti itu, kegiatan-kegiatan budaya dan literasi misalnya festival atau pameran buku, musikal, teater dan seni menjadi bagian dari program pembangunan.
Kota-kota seperti itu biasanya mempunyai jaringan perpustakaan dan toko buku yang banyak, jaringan penerbitan yang luas, memiliki ragam komunitas literasi, dan punya banyak sumber daya manusia yang mampu menulis kreatif.
"Saya berharap terus terjadi penguatan pembangunan sumberdaya manusia di Jakarta agar kota ini dipenuhi orang-orang kreatif. Di masa depan kemajuan sebuah kota ditentukan oleh kreativitas warganya,†pungkas Fahira.