Berita

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin/Net

Dunia

Dialog Afghanistan yang Dipimpin India Tidak Akan Membawa Hasil Nyata Tanpa Kehadiran China dan Pakistan

RABU, 10 NOVEMBER 2021 | 12:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tujuh negara termasuk Rusia, Kazakhstan, dan Iran telah mengkonfirmasi kehadiran mereka di Dialog Keamanan Regional Delhi yang akan membahas tentang Afghanistan di tingkat penasihat keamanan nasional yang akan digelar pada Rabu (10/11) waktu setempat.

China dan Pakistan menyatakan absen dari pertemuan tersebut, yang menurut para ahli bisa menyebabkan munculnya hasil yang sia-sia bagi Afghanistan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan pada hari Selasa bahwa China tidak bisa menghadiri pertemuan tersebut karena masalah penjadwalan, dan India telah diberitahu mengenai masalah tersebut.


Pernyataan Wang datang setelah pekan lalu Pakistan menyatakan akan melewatkan pertemuan tersebut.

Media India melaporkan pada Minggu (7/11) bahwa China terbuka untuk berdialog dengan India mengenai Afghanistan secara multilateral dan bilateral meskipun tidak bisa hadir.

Sementara sebuah sumber mengatakan kepada ANI News India bahwa keputusan Pakistan menunjukkan pola pikirnya memandang Afghanistan sebagai protektoratnya, sumber itu bahkan menggambarkan peran Pakistan di Afghanistan sebagai sebuah kerusakan.

Zhu Yongbiao, Direktur Pusat Studi Afghanistan di Universitas Lanzhou punya pendapat mengenai pandangan tersebut.

"India ingin menggunakan acara tersebut untuk menunjukkan pengaruhnya dalam urusan regional, dan menyerang Pakistan," kata Zhu, seperti dikutip dari Global Times.

Zhu mengatakan, meskipun negara-negara tetangga datang dengan niat baik untuk membantu menstabilkan Afghanistan dan kawasan, keinginan egois India untuk menggunakan konferensi itu untuk menyerang negara-negara lain dan menyoroti kehadirannya membuat konferensi itu sulit untuk memiliki efek nyata.

"Tidak ada kekurangan pertemuan untuk membahas situasi di Afghanistan, tetapi tindakan nyata dan praktis adalah yang benar-benar dibutuhkan," kata Zhu.

Pengamat mengatakan bahwa India banyak berinvestasi di Afghanistan selama AS berada di negara tersebut dan memberikan bantuan kepada pemerintah Kabul saat itu dalam bidang intelijen dan keamanan, bahkan melatih para perwiranya.

"India tidak dapat menghilangkan kecemasannya karena pengaruhnya di Afghanistan mungkin menurun setelah penarikan AS. India selalu menentang Taliban, dan Taliban tidak terlalu mempercayai India," kata Zhao Gancheng, direktur Center for Asia- Studi Pasifik di Institut Studi Internasional Shanghai.

Itu bisa dilihat ketika utusan khusus dari Rusia, Pakistan dan China mengadakan pembicaraan di Kabul, atas undangan Taliban, dan membahas kemajuan dengan pejabat Taliban pada September lalu, dan India tidak ada dalam daftar.

Zhao mengatakan China telah bekerja sama dengan Rusia serta negara-negara Asia Tengah dalam masalah keamanan di Afghanistan, dan India merasa ditinggalkan, sehingga India akan menggunakan pertemuan itu untuk meningkatkan posisinya.  

Oktober lalu misalnya, Rusia mengumpulkan 10 negara, termasuk China dan Pakistan, untuk fokus pada perkembangan situasi politik dan militer di Afghanistan, menyoroti peran penting koordinasi China-Rusia dalam krisis Afghanistan.

Acara yang diselenggarakan oleh India juga datang di tengah ketegangan perbatasan yang ada antara India dan China.

China dan India memiliki kepentingan dan tujuan yang sama dalam keamanan regional. Tapi masalahnya, India selalu menjaga mentalitas zero-sum. India selalu menonjolkan dirinya dengan meremehkan orang lain, terutama dalam hubungannya dengan Pakistan, menurut Zhao.

"India harus meninggalkan mentalitas zero-sum jika ingin memainkan peran kunci dalam urusan keamanan regional. Pengejaran dominasi regional yang tidak realistis hanya akan berdampak negatif pada negara lain," ujarnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya