Berita

Pabrik baja di sebuah desa di Serbia/Net

Dunia

Debu Merah Sebabkan Kanker di Kota-kota Serbia, Diduga Ulah Pabrik Baja Milik China

RABU, 10 NOVEMBER 2021 | 09:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Warga Smedrevo, sebuah kota di Serbia tengah, saat ini sedang resah dengan semakin meningkatnya jumlah kanker di wilayah mereka sejak hadirnya pabrik baja milik China kurang dari satu dekade lalu.

Bahkan, penduduk di Desa Radinac yang diselimuti debu merah tebal dari pabrik tersebut ingin tempat itu dibersihkan atau bahkan ditutup demi mencegah semakin banyak korban.

Adalah Zoran, seorang pasien kanker tenggorokan berusia 70 tahun yang berbicara dengan prostesis suara setelah laringnya diangkat, mengatakan bahwa warga harus mengeringkan cucian mereka di dalam ruangan dan menggunakan cuka untuk membersihkan debu dari mobil mereka.


"Air tidak bisa membersihkannya," katanya, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (10/11).

"Kami tidak berani keluar,"  ujarnya.

Menurut data dari badan kesehatan masyarakat Smederevo, yang diperoleh oleh pengawas bernama Tvrdjava melalui permintaan kebebasan informasi dan dibagikan kepada Reuters, pemerintah kota berpenduduk sekitar 100.000 orang itu telah melaporkan 6.866 kasus kanker pada 2019, naik dari 1.738 pada 2011.

Pabrik tersebut mengatakan telah menginvestasikan 300 juta euro dalam teknologi dan pengurangan polusi sejak pembuat baja terbesar China, Hesteel, membelinya dari negara bagian Serbia seharga 46 juta euro (setara 53 juta dolar AS) lima tahun lalu.

Manajer pabrik untuk perlindungan lingkungan, Ljubica Drake membantah bahwa banyaknya kanker di wilayah tersebut akibat pendirian pabrik.

Dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, dia mengatakan bahwa menyimpulkan tingkat kanker yang lebih tinggi disebabkan oleh aktivitas pabrik adalah sesuatu tidak benar.

"Penyakit itu bisa jadi akibat pemboman NATO atas Serbia pada 1999 selama perang di Kosovo," katanya.

Tetapi para aktivis mengatakan pabrik itu adalah contoh perusahaan industri milik China yang mengabaikan standar polusi.

Nikola Krstic, kepala Tvrdjava, sebuah kelompok lingkungan mengatakan analisis debu merah pada bulan September menunjukkan konsentrasi logam berat yang tinggi.

"Udara di kota itu jauh di bawah standar Eropa selama 120 hari per tahun," katanya kepada Reuters.

"Debu merah berminyak, menempel di paru-paru, membuat sulit bernapas," ujarnya.

Pihak berwenang di Beograd telah mengatakan mereka siap untuk menantang perusahaan milik China atas terjadinya polusi tersebut.

April lalu, pihak berwenang Serbia memerintahkan Grup Pertambangan Zijin China untuk sementara menghentikan beberapa operasi di satu-satunya tambang tembaga negara itu karena kegagalan mereka mematuhi standar lingkungan.

Tambang mengatakan akan memperbaiki semua masalah dengan cepat, dan diizinkan untuk dibuka kembali.

"Tidak hanya pencemar harus didenda, jika mereka tidak dapat mengurangi polusi mereka harus menghentikan operasi," kata Zorana Mihajlovic, menteri pertambangan dan energi Serbia pekan lalu.

China telah menginvestasikan miliaran euro di Serbia, yang merupakan kandidat untuk bergabung dengan UE tetapi memiliki hubungan yang tidak nyaman dengan Barat lebih dari dua dekade setelah perang yang mengikuti pecahnya Yugoslavia, dan telah mengejar hubungan dekat dengan Beijing.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya