Aleksander Lukashenko/net
Belarusia menyesalkan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya terkait krisis migran di perbatasan Polandia-Belarusia. Namun begitu, alih-alih terus menerus memberikan bantahan, Presiden Aleksander Lukashenko berpesan agar jajarannya melakukan yang terbaik untuk menghindari membuat kesalahan dalam menyelesaikan krisis tersebut.
Jika Belarusia salah langkah, bukan tidak mungkin Rusia, sekutu dekat Belarusia, akan ikut terseret dalam konflik perbatasan yang telah terjadi berlarut-larut ini.
"Kami tidak menantang siapa pun, karena kami tahu jika kami membuat kesalahan, Tuhan melarang. Jika kami tersandung, Rusia juga akan masuk ke pusaran air ini," kata Lukashenko dalam sebuah wawancara media, seperti dikutip dari Belta, Selasa (9/11).
Lukashenko mengatakan, ia menyadari posisi Belarusia. Sulit melawan kekuatan besar negara-negara Eropa. Dia menekankan bahwa mengangkat senjata di dunia modern saat ini akan menjadi "bunuh diri" bagi Belarusia. Namun begitu, ia tidak ingin mereka melihat "Belarusia berlutut".
Ia ingat bahwa Rusia adalah kekuatan nuklir utama. Maka jika Belarusia salah mengambil sikap dalam menangani krisis ini, bukan tidak mungkin perang akan terjadi, dan Rusia sebagai sekutu utama sudah pasti akan ikut terlibat. Ini akan lebih berbahaya.
"Terlebih lagi di sini, di jantung Eropa. Terlebih lagi dalam kaitannya dengan Belarus. Banyak perang terjadi di sebidang tanah ini, di pusat Eropa. Di situlah semuanya dimulai. Bukankah seharusnya kita belajar dari sejarah? katanya.
"Maaf, Anda dan saya adalah orang-orang militer. Kami cukup tahu bagaimana rasanya berperang melawan orang-orang miskin di perbatasan dengan Polandia, atau dengan Belarusia, dan menggerakkan konvoi baju besi melawan mereka," lanjut Lukashenko.
Negara-negara UE menyalahkan Belarusia atas krisis migran ini, menuduh Minsk melakukan upaya kotor. Mengecam dan juga memberikan sanksi baru.
Para migran dari Timur Tengah mulai berdatangan sejak awal tahun ini. Mereka berusaha memasuki Eropa melalui rute Belarusia. Puncak serbuan mereka terjadi pada Senin (8/11) di mana terjadi penambahan sebesar 2.000 orang di perbatasan.