Berita

Aleksander Lukashenko/net

Dunia

Krisis Migran, Lukashenko: Jika Belarusia Salah Langkah, Bisa-bisa Rusia Terseret Juga

RABU, 10 NOVEMBER 2021 | 07:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Belarusia menyesalkan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya terkait krisis migran di perbatasan Polandia-Belarusia. Namun begitu, alih-alih terus menerus memberikan bantahan, Presiden Aleksander Lukashenko berpesan agar jajarannya melakukan yang terbaik untuk menghindari membuat kesalahan dalam menyelesaikan krisis tersebut.

Jika Belarusia salah langkah, bukan tidak mungkin Rusia, sekutu dekat Belarusia, akan ikut terseret dalam konflik perbatasan yang telah terjadi berlarut-larut ini.

"Kami tidak menantang siapa pun, karena kami tahu jika kami membuat kesalahan, Tuhan melarang. Jika kami tersandung, Rusia juga akan masuk ke pusaran air ini," kata Lukashenko dalam sebuah wawancara media, seperti dikutip dari Belta, Selasa (9/11).


Lukashenko mengatakan, ia menyadari posisi Belarusia. Sulit melawan kekuatan besar negara-negara Eropa. Dia menekankan bahwa mengangkat senjata di dunia modern saat ini akan menjadi "bunuh diri" bagi Belarusia. Namun begitu, ia tidak ingin mereka melihat "Belarusia berlutut".

Ia ingat bahwa Rusia adalah kekuatan nuklir utama. Maka jika Belarusia salah mengambil sikap dalam menangani krisis ini, bukan tidak mungkin perang akan terjadi, dan Rusia sebagai sekutu utama sudah pasti akan ikut terlibat. Ini akan lebih berbahaya.  

"Terlebih lagi di sini, di jantung Eropa. Terlebih lagi dalam kaitannya dengan Belarus. Banyak perang terjadi di sebidang tanah ini, di pusat Eropa. Di situlah semuanya dimulai. Bukankah seharusnya kita belajar dari sejarah? katanya.

"Maaf, Anda dan saya adalah orang-orang militer. Kami cukup tahu bagaimana rasanya berperang melawan orang-orang miskin di perbatasan dengan Polandia, atau dengan Belarusia, dan menggerakkan konvoi baju besi melawan mereka," lanjut Lukashenko.

Negara-negara UE menyalahkan Belarusia atas krisis migran ini, menuduh Minsk melakukan upaya kotor. Mengecam dan juga memberikan sanksi baru.

Para migran dari Timur Tengah mulai berdatangan sejak awal tahun ini. Mereka berusaha memasuki Eropa melalui rute Belarusia. Puncak serbuan mereka terjadi pada Senin (8/11) di mana terjadi penambahan sebesar 2.000 orang di perbatasan.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya