Berita

Arus migran di perbatasan Polandia-Belarusia kian memuncak pada Senin 8 November 2021/Net

Dunia

Krisis Migran Memuncak, UE Tuding Belarusia Gunakan Taktik ala Gangster untuk Menipu Pengungsi

RABU, 10 NOVEMBER 2021 | 06:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perselisihan Polandia dan Belarusia terkait krisis migran di perbatasan dua negara itu pada Selasa (9/11), mendorong negara-negara dalam blok Uni Eropa ikut bersuara.

Mereka mengatakan bahwa krisis akan mengancam keamanan seluruh blok dan menyalahkan Belarusia yang menjadi penyebab lonjakan arus migran.
Dalam pernyataannya, Komisi Eropa menuduh pemimpin otoriter Belarus memikat para migran dengan janji palsu untuk masuk dengan mudah ke UE sebagai bagian dari "pendekatan gaya gangster yang tidak manusiawi", menurut laporan BBC.

Hanya dalam beberapa hari, sekitar 2.000 migran memadati perbatasan Polandia dan Belarusia.

Hanya dalam beberapa hari, sekitar 2.000 migran memadati perbatasan Polandia dan Belarusia.

"Saat tiba di perbatasan, para pengungsi dipaksa masuk secara ilegal ke Uni Eropa," kata juru bicara Komisi UE, Peter Stano.

UE juga menuduh Presiden Belarusia Alexander Lukashenko mengatur krisis tersebut dengan mengirim pengungsi ke perbatasan eksternal UE dalam upayanya membalas dendam terhadap blok tersebut karena telah memberinya sanksi.

Sebagai tanggapan atas krisis migran yang semakin mengancam, 27 negara anggota UE pada Selasa (9/11) setuju untuk menangguhkan perjanjian fasilitasi visa UE-Belarus. UE menghukum Minsk karena "bermain dengan kehidupan orang-orang untuk tujuan politik".

“Ini adalah bagian dari pendekatan yang tidak manusiawi, dan benar-benar bergaya gangster dari rezim Lukashenko bahwa dia berbohong kepada orang-orang. Dia menyalahgunakan orang, menyesatkan mereka, dan membawa mereka ke Belarus dengan janji palsu untuk masuk dengan mudah ke UE,” kata juru bicara itu dalam pernyataannya.

Minsk berulangkali membantah semua tuduhan itu. Minsk mengingatkan ancaman provokasi bisa timbul di perbatasan jika semua pihak saling menyalahkan, terutama saat ini pasukan bersenjata dari kedua negara telah dikerahkan di perbatasan.

Polandia sendiri telah menurunkan 12.000 tentaranya untuk mengamankan perbatasan. Kabar beredar bahwa pada Selasa, pasukan itu ditambah lagi hingga jumlahnya mencapai 20.000.

Penyeberangan perbatasan Kuźnica Polandia ditutup pada Selasa pagi. Sempat terjadi bentrokan antara petugas dengan para migran ketika sebagaian dari mereka memaksa masuk dengan sengaja memotong pagar berduri atau menumbangkan pohon untuk membantu melompati pembatas perbatasan.  

Para migran juga melempari petigas dengan benda-benda, yang dibalas dengan semprotan air. Suara tembakan terdengar di beberapa video yang diposting online pada Senin dan Selasa.

"Tidak ada yang mengizinkan kami masuk ke mana pun, Belarusia atau Polandia," keluh salah seorang pengungsi kepada BBC.

Dia menggambarkan bagaimana dia tiba di Minsk dari Baghdad pada awal November, dan sekarang berada di kamp darurat beberapa meter dari pagar kawat berduri Polandia. Dia tidak tahu harus menuju kemana ketika semua tempat menolak mereka.

"Polandia tidak mengizinkan kami masuk. Setiap malam mereka menerbangkan helikopter. Mereka tidak membiarkan kami tidur. Kami sangat lapar. Tidak ada air atau makanan di sini. Ada anak-anak kecil, pria dan wanita tua, dan keluarga," katanya dengan memelas.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya