Berita

Mantan menteri pertahanan Jepang Nakatani/Net

Dunia

PM Jepang Tunjuk Jenderal yang Keras Terhadap China Soal Uighur sebagai Penasihat HAM

SELASA, 09 NOVEMBER 2021 | 10:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gesekan antara Jepang dan China diperkirakan akan kembali terjadi setelah Perdana Menteri Fumio Kishida menunjuk mantan menteri pertahanan Jepang,  yang dikenal kritis terhadap perlakuan China terhadap etnis Uighur sebagai penasihat khusus untuk masalah hak asasi manusia.

Seorang juru bicara pemerintah mengatakan bahwa penunjukkan Nakatani kemungkinan akan dilakukan saat Jepang melalukan sesi parlemen khusus akhir pekan ini.

Nakatani, yang mengepalai kelompok lintas partai pembuat undang-undang tentang kebijakan China, telah menjadi advokat bagi Jepang untuk bergabung dengan negara-negara demokrasi besar lainnya dalam menjatuhkan sanksi terhadap China dan lainnya atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Dia telah menyusun undang-undang untuk membuat tindakan seperti itu terjadi.


“Saya berharap dapat menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang saya peroleh sebagai politisi yang telah bekerja secara intensif dalam isu-isu yang melibatkan hak asasi manusia,” kata Nakatani kepada wartawan setelah bertemu Kishida, seperti dikutip dari Taipei Times, Selasa (9/11).


Tahun lalu, Nakatani termasuk di antara sekelompok anggota parlemen senior dari delapan negara demokrasi, termasuk AS, yang meluncurkan aliansi lintas-parlemen untuk melawan apa yang mereka katakan sebagai ancaman pengaruh China yang semakin besar terhadap perdagangan global, keamanan dan hak asasi manusia.

Penunjukkan Nakatani juga sudah mendapat reaksi dari Pemerintah China.

“Pengangkatan pejabat oleh pemerintah Jepang merupakan urusan internal Jepang. Saya tidak punya komentar. Saya ingin menekankan bahwa urusan dalam negeri China tidak mengizinkan campur tangan asing,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin dalam jumpa pers reguler di Beijing.

China telah membantah menganiaya minoritas Muslim Uighur, menggambarkan kebijakannya sebagai upaya untuk mencegah ekstremisme, memerangi terorisme, dan mengurangi kemiskinan. Ia telah marah pada kritik atas dugaan pelanggaran hak sebagai bermotif politik.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya