Presiden China Xi Jinping/Net
Ketidakhadiran China dan Rusia dalam KTT Iklim COP26 di Glasgow, menjadi perhatian mantan presiden AS Barack Obama. Menurutnya, China dan Rusia kurang berkomitmen untuk mensukseskan KTT Iklim tersebut.
Ketidakhadiran perwakilan dari dua negara itu menunjukkan bahwa "kurangnya urgensi" dari kedua negara itu terhadap perubahan iklim, padahal keduanya dianggap sebagai penghasil emisi terbesar dunia.
"Saya harus mengakui bahwa sangat mengecewakan melihat para pemimpin dari dua penghasil emisi terbesar di dunia, China dan Rusia, menolak untuk menghadiri konferensi," kata Obama dalam konferensi Senin (8/11), seperti dikutip dari Reuters.
Obama juga menyebut ketidakhadiran keduanya sebagai lemahnya rencana nasional mereka terhadap perubahan iklim dan itu memalukan.
Obama mengatakan terlalu sedikit kemajuan yang telah dibuat sejak Perjanjian Paris 2015 untuk mencoba mengekang pemanasan pada 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Mendorong negara-negara kaya untuk mengkahiri kebuntuan bertahun-tahun tentang penanganan iklim.
Saat AS menandatangani Perjanjian Paris 2015, Obama menjabat sebagai presiden AS. Ia mengatakan pakta tersebut sebagian besar telah berhasil dalam menetapkan kerangka kerja untuk tindakan lebih lanjut.
Pada saat Perjanjian Paris itu, ia berkomitmen untuk memotong emisi AS menjadi setidaknya 26 persen di bawah tingkat 2005 pada tahun 2025. Namun, emisi turun hanya 4 persen pada akhir masa jabatannya, kemudian meningkat setelah terpilihnya Donald Trump pada 2016. Presiden Joe Biden pun telah berjanji untuk memangkas emisi hingga 50 persen di bawah tingkat 2005 pada 2030.
Dalam konferensi Senin, Obama menyerahkan sepenuhnya kepada Amerika Serikat dan Eropa, negara-negara kaya, untuk memimpin perang melawan perubahan iklim. Namun dia meminta negara-negara kecil seperti India, Afrika Selatan dan Brasil untuk meningkatkan upaya mereka juga.
Obama kemudian mendapat tepuk tangan meriah setelah sambutannya itu.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping termasuk di antara sedikit pemimpin dunia yang tidak menghadiri KTT. Putin hanya mengirimkan rekaman pernyataan video yang ditampilkan pada konferensi tersebut, sementara Xi mengirim pernyataan tertulis. Padahal, kedua negara memiliki delegasi di COP26.
Kontan saja hal itu menuai kritik dari para peserta dan menganggap kedua negara bergerak lamban dalam perubahan iklim.
Diketahui, Xi belum meninggalkan China sejak wabah Covid-19.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, menegur AS karena mencoba mengkritik China padahal AS juga adalah penghasil emisi terbesar.
“AS, sebagai penghasil emisi kumulatif terbesar dari gas rumah kaca, harus menghadapi tanggung jawab historisnya dan menunjukkan ambisi yang lebih besar untuk mengurangi emisinya. Tunjukkan tindakan, bukan cuma slogan semata!" ujar Wang.
Sementara juru bicara Kremlin Dmitry Peskov membela program iklim Rusia, dengan mengatakan negaranya mengambil tindakan "koheren, bijaksana dan serius".