Berita

Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu/Net

Dunia

Dimasukkan dalam Daftar Hitam Sanksi Seumur Hidup oleh China, Joseph Wu Malah Meledek: Itu Membuat Banyak Orang Cemburu

SABTU, 06 NOVEMBER 2021 | 13:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah Dewan Urusan Daratan Taiwan memberikan tanggapannya atas ancaman Beijing, kini giliran Menteri Luar Negeri Taiwan, Joseph Wu, yang bersuara.

Wu termasuk salah satu pejabat Taiwan yang dimasukkan dalam daftar 'orang keras kepala' yang menyuarakan kemerdekaan Taiwan oleh Kantor Urusan Taiwan China.

Wu bersama Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang dan Ketua Parlemen You Si-kun, serta beberapa pejabat lainnya, akan dikenai sanksi 'seumur hidup' oleh Beijing karena vokal mengoyak prinsip 'satu China'. 


Dalam sebuah postingan di Twitter, Wu menyambut keputusan itu dengan candaan dan sindiran, mengatakan bahwa itu akan membuat banyak orang merasa cemburu karena tidak ikut terpilih.

"Saya telah menerima banyak ucapan selamat setelah masuk daftar hitam dan sanksi, seumur hidup, oleh #PKC," cuitnya pada Sabtu (6/11), seperti dikutip dari Reuters, mengacu pada keputusan yang dikeluarkan Partai Komunis Tiongkok.

"Banyak yang cemburu karena tidak diakui; beberapa bertanya di mana mereka bisa melamarnya. Untuk mendapatkan kehormatan langka, saya akan terus berjuang untuk kebebasan dan demokrasi #Taiwan," katanya.

Juru bicara Kantor Urusan Taiwan China, Zhu Fenglian, pada Jumat (5/11) mengeluarkan peringatan bahwa para pendukung kemerdekaan Taiwan akan dimasukkan dalam daftar orang-orang yang dimintai pertanggungjawaban pidana seumur hidup.

Orang-orang dalam daftar itu akan menerima hukuman dengan tidak diijinkan memasuki Daerah Administratif Khusus China di Hong Kong dan Makau.

Fenglian dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Reuters mengatakan, hukuman itu juga termasuk tidak mengizinkan mereka bekerja sama dengan entitas atau orang-orang dari daratan, juga perusahaan atau entitas yang mendanai mereka tidak akan diizinkan untuk mengambil untung dari China.

Politisi Taiwan biasanya mengandalkan sumbangan dari perusahaan untuk mendanai kampanye pemilihan mereka. Banyak perusahaan Taiwan memperoleh keuntungan dari melakukan bisnis dengan (China) daratan.

Zhu mengatakan, pendukung kemerdekaan Taiwan adalah orang yang melupakan leluhur mereka, mengkhianati tanah air dan memecah belah negara. "Dan bagi mereka itu, tidak akan pernah berakhir dengan baik dan akan ditolak oleh rakyat dan dihakimi oleh sejarah."
 
Pernyataan Zhu keluar di tengah ketegangan yang meningkat antara China dan Taiwan.

Dewan Urusan Daratan Taiwan dengan tegas menantang balik ancaman tersebut dan akan mengambil tindakan balasan yang diperlukan untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya.

"Taiwan akan melakukan pembalasan terhadap siapa pun yang mengganggu rakyatnya. Sebagai negara yang terdiri dari masyarakat yang demokratis, Taiwan tidak berada di bawah perintah Beijing," isi pernyataan Dewan. Menembahkan bahwa mereka tidak menerima intimidasi dan ancaman dari wilayah otokratis dan otoriter.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya