Berita

Kapal selam Angkatan Laut AS, USS Connecticut/Net

Dunia

Usai Tabrakan di Laut China Selatan, AS Pecat Komandan Kapal Selam Bertenaga Nuklir USS Connecticut

JUMAT, 05 NOVEMBER 2021 | 08:57 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Insiden tabrakan kapal selam bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), USS Connecticut, pada awal bulan lalu berujung pada pemecatan para petinggi dan awaknya.

Angkatan Laut AS dilaporkan telah memecat Komandan Cameron Aljilani dan dua orang lainnya pada Kamis (4/11), menyusul penyelidikan atas kecelakaan di Laut China Selatan pada 2 Oktober itu.

Militer menyebut kecelakaan fatal itu pada dasarnya dapat dicegah. Sehingga Aljilani akan digantikan oleh komandan sementara.


"Penilaian yang baik, pengambilan keputusan yang bijaksana dan kepatuhan terhadap prosedur yang diperlukan dalam perencanaan navigasi, pelaksanaan tim pengawasan, dan manajemen risiko dapat mencegah insiden tersebut," kata Armada ke-7 AS yang berbasis di Pasifik, seperti dikutip Al Jazeera.

Kecelakaan yang menimpa USS Connecticut diumumkan beberapa hari setelah insiden. Disebutkan kapal selam telah menabrak objek yang tidak dikenal di sebuah perairan di Pasifik, yang belakangan diketahui sebagai Laut  China Selatan.

Sebelas pelaut terluka dalam kecelakaan itu. Menurut laporan, kecelakaan itu merusak tangki pemberat kapal selam, tetapi pembangkit nuklirnya tidak rusak.

Peristiwa itu membuat USS Connecticut terpaksa berlayar di permukaan selama seminggu untuk mencapai Guam.

Setelah penilaian kerusakan di Guam, kapal akan kembali ke pangkalan kapal selam AS di Bremerton, Washington untuk perbaikan.

Pekan lalu Angkatan Laut mengatakan penyelidikan menunjukkan bahwa kapal selam itu menabrak gunung bawah laut yang belum dipetakan saat berpatroli di bawah permukaan.

USS Connecticut adalah kapal selam serang cepat kelas Seawolf USS Connecticut (SSN 22) dan memiliki 140 awak, termasuk 14 perwira, pada saat kejadian.

Angkatan Laut mengatakan kapal Seawolf tenang, cepat, dipersenjatai dengan baik, dan dilengkapi dengan sensor canggih. Mereka juga memiliki delapan tabung torpedo.

Sementara itu, Laut Cina Selatan adalah salah satu jalur air yang paling disengketakan dan signifikan secara ekonomi di dunia.

China mengklaim hampir seluruh wilayah di bawah garis sembilan putus-putusnya yang kontroversial dan telah membangun pulau-pulau buatan dan mendirikan pos-pos militer dalam beberapa tahun terakhir.

Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina juga mengklaim bagian perairannya, seperti halnya Taiwan.

AS telah melakukan apa yang disebutnya operasi kebebasan navigasi di Laut Cina Selatan untuk menegaskan hak dan kebebasan navigasi sesuai dengan hukum internasional.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Sekolah Rakyat Jadi Senjata Putus Rantai Kemiskinan

Sabtu, 18 April 2026 | 20:05

Megawati: Lemhannas Bukan Lembaga Pencetak Sertifikat

Sabtu, 18 April 2026 | 19:36

Bahaya Judi Online, Hadir Seperti Permainan dengan Keuntungan

Sabtu, 18 April 2026 | 19:09

Sidak Gudang Bulog, Prabowo Cek Langsung Stok Beras di Magelang

Sabtu, 18 April 2026 | 18:52

Megawati Minta Hak Veto PBB Dihapus, Pancasila Masuk Piagam Dunia

Sabtu, 18 April 2026 | 18:27

Perempuan Bangsa Gelar Aksi Nyata Tanam Pohon untuk Jaga Lingkungan

Sabtu, 18 April 2026 | 17:43

Perjuangan Fraksi PKB untuk Pesantren Berbuah Penghargaan

Sabtu, 18 April 2026 | 17:10

PDIP: Jangan Sampai Indonesia Dianggap Proksi Kekuatan Global

Sabtu, 18 April 2026 | 16:37

wondr Kemala Run 2026, Peserta Berlari Sambil Berbagi

Sabtu, 18 April 2026 | 16:21

Menggugat Algoritma, Pentingnya Lampaui Dogmatisme Hukum Klasik

Sabtu, 18 April 2026 | 15:48

Selengkapnya