Berita

Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini/Net

Politik

Prof Didik J Rachbini: Kerja Sama Indonesia-China Awalnya Coba-coba tapi Berujung Fatal

RABU, 03 NOVEMBER 2021 | 08:24 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Masifnya kerja sama antara Indonesia dan China sejak adanya penandatanganan China Asean Free Trade Area (CAFTA) kini membuat Indonesia tidak terlalu produktif dan lebih banyak konsumtif.

Kerja sama Indonesia-China pun mengakibatkan fenomena baru ekonomi tanah air yang kini dibanjiri produk China secara masif tanpa proteksi memadai.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini pada pemaparannya dalam diskusi publik bertema "Dampak Investasi China untuk Indonesia: Produktif atau Korosif?".


Prof Didik menjelaskan, hubungan Indonesia-China sejatinya tidak begitu dekat seperti halnya hubungan Indonesia dengan Jepang yang sudah berlangsung sekitar 60 tahun.

Hubungan ekonomi Indonesia dengan Jepang, kata Prof Didik, berbeda sama sekali dengan China. Kerja sama Indonesia-Jepang lebih rumit karena lebih teliti sehingga negoisasi investasi dan kerja sama lebih lama.

"Tetapi setelah berjalan menjadi mudah dan lancar. (berbeda) Dengan China, kerja sama ekonomi bisa terjadi dengan mudah, tetapi ketika berjalan banyak masalah dan bahkan sulit untuk keluar," kata Prof Didik dalam keterangan tertulisnya, Rabu (3/11).

Prof Didik menyebut, hubungan kerja sama Indonesia-China awalnya terlihat coba-coba yang berakibat fatal bagi perekonomian tanah air. Kerja sama lebih banyak merugikan Indonesia, terutama investasi pertambangan nikel.

"Hasil hubungan ekonomi Indonesia dan China adalah perdagangan yang defisit begitu besar, perekonomian Indonesia begitu berat seperti dapat dilihat sekarang ini. Nilai tukar Indonesia menjadi melayang-layang dan defisit perdagangan besar," paparnya.

Kerja sam ekonomi, jelas Prof Didik, berhubungan dengan ekonomi-politik yang mempunyai dampak menggerus politik bebas aktif Indonesia. Bahkan Indonesia seolah telah menjadi subordinasi China.

"Kapal China yang masuk perairan Indonesia dihalau dengan sekenanya saja. Padahal dulu politik luar negeri Indonesia amat dihormati seperti era Menlu Ali Alatas yang berwibawa," tandasnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya