Berita

Sejumlah aktivis PB PMII berjajar menunjukkan kumpulkan huruf bertusilikan Indonesia Maju Ilusi/Ist

Politik

PB PMII: Indonesia Maju Jokowi-Maruf Amin Ilusi Belaka

JUMAT, 29 OKTOBER 2021 | 14:14 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) 2021-2024 memberikan ppenilaian bahwa visi Indonesia Maju yang digaungkan pemerintahan Joko Widodo-Maruf Amin hanya islusi belaka.

Pandangan itu disampaikan oleh unsur PB PMII saat melakukan mimbar bebas dalam rangka memperingati Sumpah pemuda tahun 2021 di Monas, Jakarta Pusat, Kamis malam (28/10).

Wasekjen Bidang Polhukam, Hasnu menyatakan, kegiatan PB PMII di Moonas sempat dibubarkan secara paksa oleh aparat kepolisian, sehingga kegiatan mimbar bebas dilakukan di depan Sekretariat PB PMII di Jalan Salemba Tengah, No 57, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.


Hasnu menjelaskan, sikap PB PMII dalam mengevaluasi kinerja Jokowi-Maruf Amin didasarkan hasil kajian bersama para pengurus besar (PB) PMII.

PB PMII, kata Hasnu, memandang bahwa pemerintahan Jokowi– Maruf masih menyisakan banyak problem kebangsaan yang menjadi pekerjaan rumah dan harus segera direalisasikan.

"Seperti pada sektor pembangunan ekonomi, ketenagakerjaan, pembangunan sumber daya manusia, demokrasi, HAM, dan penegakan hukum dan sektor lingkungan hidup," demikian kata Hasnu kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat siang (29/10).

Lebih lanjut, Hasnu menguraikan, PB PMII menilai sektor pembangunan ekonomi belum maksimal. Sebab, dampak dari pengelolaan ekonomi yang buruk melahirkan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

"PB PMII mendorong Pemerintah kembali membangun kemandirian ekonomi nasional dengan bertumpu pada kekuatan dalam negeri, baik permodalan, sumberdaya pelaku usaha dan pekerja, maupun komoditas. Pemerintah harus memperkuat koperasi dan UMKM sebagai pilar kemandirian ekonomi nasional," demikian penjelasan Hasnu. .

Catatan kritis lainnya, PB PMII menagih komitmen Presiden Jokowi untuk mengoptimalkan potensi maritim dalam pembangunan ekonomi nasional.

Menurut catatan PB PMII, seharusnya Jokowi membangun pelabuhan baru yang inklusif untuk memenuhi kebutuhan nelayan dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat nelayan.

Dalam konteks pendapatan negara, PMII berpandangan bahwa pemerintah sebaiknya menghapus kebijakan tax amnesty dan mengambil segala potensi keuangan negara dari transfer pricing.

"Terkait sektor kesejahteraan tenaga kerja, PB PMII memandang bahwa pemerintah belum mampu menjamin secara penuh kesejahteraan, keamanan, keselamatan, dan keadilan di lingkungan kerja," jelas Hasnu yang menjelaskan hasil kajian PB PMII.

PB PMII, kata Hasnu, juga menyoroti aAdanya peraturan perundang-undangan dan kebijakan perusahaan yang merugikan pekerja. Imbasnya, pemicu maraknya PHK, pekerja yang di rumahkan sampai pada kasus tidak dikeluarkannya tunjangan untuk hari raya bagi para pekerja.

PB PMII Meminta Jokowi segera memberikan sanksi tegas kepada perusahan-perusahan yang tidak memenuhi hak-hak para pekerja.

Di sektor pembangunan sumber daya manusia, PB PMII menilai perkembangannya masih sangat stagnan bahkan di beberapa sisi mengalami kemunduran.

Hasnu kemudian mencontohkan, sejauh ini fasilitas pendidikan masih belum merata di setiap wilayah di Indonesia.

"PB PMII mendorong Pemerintah agar memastikan alokasi 20% APBN dan APBD diperuntukan semata-mata untuk pengembangan pendidikan," demikian tuntutan PB PMII.

Untuk sektor demokrasi, HAM dan penegakan hukum, PB PMII menilai telah mengalami kemunduran yang sangat serius. Pada konteks penguatan demokrasi, PMII mencatat masih marak tindakan represif aparat terhadap aktivis baik secara langsung ataupun di ruang digital.

Kemudian dari itu, pemerintah dinilai sangat gagap dalam menyelesaikan pelanggaran kasus HAM berat di masa lalu serta gagal melakukan perlindungan HAM.

"Pada aspek penegakan hukum, belum menyentuh prinsip keadilan. Sebut saja misalkan pada kasus-kasus korupsi yang menyeret elit politik. Hasilnya, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya