Berita

Panglima Angkatan Bersenjata Sudan, Jenderal Abdel Fattah Al Burhan/Net

Dunia

Kudeta Militer Sudan, Panglima Jenderal: Kami Tak Punya Pilihan Lain untuk Menghindari Perang Saudara

RABU, 27 OKTOBER 2021 | 09:40 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Panglima Angkatan Bersenjata Sudan, Jenderal Abdel Fattah Al Burhan mengaku tidak memiliki pilihan lain selain menggulingkan pemerintah untuk menghindari perang saudara.

Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers pada Selasa (26/10), atau yang pertama sejak pengumumkan pengambilalihan kekuasaan. Burhan mengatakan tentara tidak punya pilihan lantaran politisi kerap menghasut untuk melawan angkatan bersenjata.

Meski begitu, Burhan berdalih, apa yang telah dilakukan oleh militer bukan sebuah kudeta.


"Bahaya yang kita saksikan minggu lalu bisa membawa negara ke dalam perang saudara," kata Burhan, merujuk pada aksi demonstrasi warga terhadap militer dan kemungkinan kudeta pada pekan lalu.

Pengambilalihan kekuasaan oleh militer di Sudan terjadi pada Senin (25/10), dengan militer menangkap dan menahan Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan sejumlah pejabat tinggi pemerintahan. Hamdok kemudian dibebaskan sehari setelahnya.

Kudeta terjadi berselang dua tahun setelah pemberontakan rakyat berhasil menggulingkan pemerintahan Omar al-Bashir.

Pada Senin, Burhan muncul di televisi untuk mengumumkan pembubaran Dewan Berdaulat, sebuah badan yang dibentuk setelah penggulingan Bashir untuk berbagi kekuasaan antara militer dan sipil.

Dutabesar Sudan untuk 12 negara, termasuk Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, China, dan Prancis, telah menolak pengambilalihan militer tersebut.

Duta Besar untuk Belgia dan Uni Eropa, Jenewa dan badan-badan PBB, China, Afrika Selatan, Qatar, Kuwait, Turki, Swedia dan Kanada juga menandatangani pernyataan tersebut, yang mengatakan para utusan mendukung perlawanan rakyat terhadap kudeta.

Negara-negara Barat mengecam kudeta, sembari menyerukan agar menteri-menteri kabinet yang ditahan untuk segera dibebaskan. Mereka mengatakan akan menghentikan bantuan vital jika militer tidak memulihkan pembagian kekuasaan dengan warga sipil.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya