Berita

Edith Louisa Cavell/Net

Histoire

Edith Cavell, Perawat yang Dieksekusi Mati karena Menolong Ratusan Tentara Musuh dalam PD I

SELASA, 12 OKTOBER 2021 | 08:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perempuan asal Inggris ini menginspirasi dunia tentang apa itu arti pengorbanan. Ia tercatat dalam sejarah karena berani menyelamatkan tentara di kedua sisi dan membantu sekitar 200  tentara Sekutu melarikan diri dari Belgia yang diduduki Jerman, walau kemudian dia harus dihukum mati.

Pagi itu, 12 Oktober 1915, nyawa perempuan 49 tahun itu, harus berakhir di ujung senapan regu tembak Jerman di Brussels, Belgia, setelah ditangkap dan dituduh makar.

Jarang sekali ketika kita menyebut pahlawan perang dunia pertama, sosok itu adalah seorang perawat. Ya, Edith Louisa Cavell adalah seorang perawat Inggris. Ia bertugas selama Perang Dunia 1. Dia tidak hanya menyelamatkan nyawa tentara Sekutu dan Jerman, tetapi dia juga membantu banyak tentara Inggris melarikan diri ke tempat yang aman.


Edith lahir pada tahun 1865 di Swardeston, dekat Norwich. Ayahnya, Frederick, adalah pendeta setempat. Sebagai seorang gadis, dia menikmati menggambar dan melukis, seluncur es dan menghabiskan waktu dengan binatang.

Pada 1907, Cavell bertugas selama beberapa tahun sebagai kepala sekolah pelatihan perawat di Brussel.  Di sini ia meningkatkan dan memodernisasi standar keperawatan di Belgia.

Pada 1912, Edith lebih sibuk dari sebelumnya, melatih perawat untuk beberapa rumah sakit dan sekolah.

Situs History menulis, bahwa setelah Perang Besar pecah pada tahun 1914, Edith bergabung dengan Palang Merah di rumah sakit Berkendael. Tugasnya adalah merawat Sekutu yang terluka, tetapi ketika Belgia dikuasai oleh Jerman, dia juga merawat orang Jerman.

Banyak rekan kerjanya yang memilih kembali ke rumah ketika Brussel jatuh, tetapi tidak dengan Edith. Selama beberapa bulan berikutnya ia bahkan merawat tentara Inggris dan Prancis yang terluka dalam pelarian menghindari penangkapan Jerman. Ini jelas bertentangan dengan darurat militer Jerman.

Tidak hanya itu, Edith menyelundupkan banyak tentara Inggris keluar dari Belgia yang diduduki dan menyembunyikan tentara dan warga sipil yang terluka. Ia tahu pekerjaannya itu mendatangkan resiko. Sebagai seorang perawat kewajibannya adalah membantu merawat mereka yang terluka, siapa pun itu.

Diperkirakan dia membantu sekitar 200 tentara melarikan diri ke Belanda yang netral.

Pihak berwenang Jerman mulai mencurigai gerak-gerik Edith. Pada Agustus 1915, Edith ditangkap dan dituduh berkhianat karena secara pribadi membantu pelarian 200 tentara, yang melanggar hukum militer Jerman.

Selama persidangannya, Edith mengakui bahwa dia bersalah atas pelanggaran yang didakwakan kepadanya. Dia dijatuhi hukuman mati. Meskipun para diplomat dari pemerintah netral Amerika Serikat dan Spanyol berjuang untuk meringankan hukumannya, upaya mereka pada akhirnya sia-sia.

Malam sebelum eksekusinya pada 12 Oktober 1915, Edith menceritakan kepada Pendeta Horace Graham, seorang pendeta dari Kedutaan Amerika, bahwa tentara yang menangkapnya memperlakukannya dengan sangat baik dan ia tidak menyinpan dendam kepada siapa pun.
 
"Saya menyadari bahwa patriotisme tidak cukup. Saya tidak boleh memiliki kebencian atau kepahitan terhadap siapa pun,” kata Edith. Kalimat Edith inilah yang diabadikan di patungnya di St Martin's Place, dekat Trafalgar Square di London.

Edith juga berpesan: "Saya meminta Pastor Gahan untuk memberi tahu orang yang saya cintai nanti bahwa jiwa saya, seperti yang saya yakini, aman, dan bahwa saya senang mati untuk negara saya."

Eksekusi Edith menimbulkan kemarahan rakyat Inggris dan permusuhan lebih lanjut terhadap Jerman. Amerika Serikat, yang pada saat itu tidak terlibat dalam perang, ikut andil dalam sikap anti-Jerman.

Edith Cavell diidealkan sebagai martir heroik dan untuk mengenangnya Inggris membangun patungnya di St. Martin's Place, tak jauh dari Trafalagar Square London.

Jenazah Edith diangkut dari Dover ke London dengan van kereta api yang sama dengan Prajurit Tidak Dikenal pada tahun 1920. Sebuah upacara pemakaman kenegaraan juga dilakukan untuknya di Westminster Abbey. Beberapa hari kemudian, Edith dia dimakamkan di Katedral Norwich.

Perjuangan Edith Cavell menjadikan ia seorang pahlawan perang. Ia juga adalah wanita jelata pertama yang diberi pemakaman kenegaraan di Westminster Abbey, suatu kehormatan yang dia bagikan dengan Putri Diana dan mantan Perdana Menteri Margaret Thatcher.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya