Berita

Kapal pesiar Italia Achille Lauro berlayar pulang setelah akhir dari cobaan pembajakan selama seminggu pada tahun 1985/Net

Histoire

10 Oktober 1985: Jet Tempur AS Kepung Kelompok Militan Palestina yang Bajak Kapal Pesiar Archille Lauro dan Tewaskan Warganya

SENIN, 11 OKTOBER 2021 | 06:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Seorang warga AS menjadi tumbal dari aksi pembajakan kapal pesiar Italia. Pria 69 tahun yang berkursi roda itu ditembak di kepala dan dadanya oleh para pembajak yang merupakan militan Palestina.  Mayatnya kemudian dibuang ke laut. Memicu kemarahan Presiden Ronald Reagen yang menitahkan pasukan tempurnya untuk segera mencegat para pembajak.
 
Para pembajak itu, beserta dalangnya, kemudian berhasil ditangkap pada 10 Oktober 1985, menandai peristiwa kelam yang menyulut krisis geopolitik dan kekhawatiran global atas dimensi pembentukan terorisme maritim.

Kisah bermula pada 3 Oktober 1985. Kapal pesiar Achille Lauro, yang berisi 748 penumpang, meninggalkan Genoa Italia untuk pelayaran 12 hari di Laut Mediterania.


Pada 7 Oktober, ketika kapal tiba di Alexandria sebagian besar pemumpang melanjutkan wisatanya dengan tur bus ke piramida. Sehingga di kapal tersisa 97 orang.

Empat teroris yang sejauh itu menyaru sebagai penumpang, langsung menyerbu ke ruang makan dengan meluncurkan tembakan ke atas, membuat para penumpang yang menikmati makan siang mereka terkejut, berteriak, dan berusaha lari. Namun tidak ada satu pun yang bisa lolos.

Pembajak yang mengaku sebagai gerilyawan Pembebasan Palestina (PLO), meminta kapten kapal melanjutkan perjalanan, meninggalkan penumpang yang sedang berwisata ke piramida. Kapal dipaksa untuk menuju timur laut, tepatnya ke pelabuhan Tartus di Suriah.

Para teroris mengklaim bahwa jumlah mereka adalah 20, mengancam kepada siapa saja agar diam atau mati.

Tuntutan yang diminta adalah agar 40 rekan mereka yang ditahan oleh Israel segera dibebaskan.

Pembajak mengancam akan meledakkan kapal dan membunuhi para penumpang jika tuntutannya tak segera dipenuhi. Namun, kru kapal sempat mengirimkan SOS yang memperingatkan masyarakat internasional bahwa orang-orang Palestina telah menyita sebuah kapal Italia.

Para pembajak kemudian mulai memisahkan sandera berdasarkan asal mereka. Mereka mencari orang Yahudi dan Amerika.

Untuk menunjukkan keseriusan ancamannya, pembajak kemudian menembak mati seorang warga AS bernama Leon Kinghoffer. Pria 69 tahun dan memakai kursi roda itu tewas dengan dua tembakan di kepala dan dada. Para pembajak mengancam penumpang lainnya untuk membuang mayat Leon ke laut.

Mendekati Pelabuhan Tartus, kapal Achille Lauro tidak dikenankan masuk. Pembajak kemudian memaksa kapten untuk berlayar menuju pelabuhan Port Said, Mesir.

Kabar bahwa Achille Lauro dibajak dan seorang warga AS ditembak mati, sampai ke telinga Presiden Ronald Reagen dan membuatnya marah. Ia memberi perintah agar Kapal perang Angkatan Laut AS, USS Saratoga, yang sedang berlayar menuju Albania, mengatasi pembajakan tersebut, seperti yang ditulis situs History.

Pembajak telah tiba di Mesir. Berdasar informasi intelijen, keempat pembajak itu  berencana menumpang pesawat komersil boeing 737 Mesir menuju Tunisia.

Ronald Reagen pun menitahkan agar jet tempur AS, F-14 Tomcat dan E-2C Hawkeye, melakukan pencegatan dan menggiring Boeing Mesir ke negara anggota NATO, Italia.

Begitu mendarat, Boeing 737 langsung dikepung pasukan khusus Italia dan SEAL Team 6 yang telah mendahului mendarat dengan pesawat khusus. Para pembajak akhirnya berhasil diringkus dan diadili.

Peristiwa pembajakan kapal pesiar Achille Lauro pada 1985 oleh empat militan Palestina bersenjata berat ini berakhir dengan pengerahan jet-jet tempur.

Belakangan diketahui bahwa dalang teroris, Abu Abbas berhasil meloloskan diri. Ini membuat hubungan diplomatik Italia-AS tegang. Lewat serangkaian pesan diplomatik dua negara, akhirnya pada 10 Juli 1986 pengadilan Italia menghukum Abu Abbas secara in Absentia dengan hukuman 30 tahun penjara.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya