Berita

Ekonom senior yang pernah menjadi Menko Ekuin era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli/Net

Politik

Ada Utang Gelap Indonesia ke China Rp 266 Triliun, RR: Mereka Buat Jebakan untuk Menguasai, Itu Model Lend to Own

JUMAT, 08 OKTOBER 2021 | 06:40 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Utang gelap atau tersembunyi Indonesia kepada China, yang tidak tercatat dalam laporan keuangan pemerintah, sudah mafhum bagi ekonom senior Rizal Ramli.

Pasalnya, dia mengetahui strategi atau skema pinjaman yang dibuat negeri tirai bambu itu memiliki tujuan tertentu. Yakni, meraup sebesar-besarnya keuntungan, dan membuat suatu negara bergantung hingga waktu yang cukup lama.

Sosok yang kerap disapa RR ini menerangkan, utang gelap yang digelontorkan China ke negara-negara mitranya, termasuk Indonesia, difasilitasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau perusahaan swasta China.


"Sebetulnya difasilitasi oleh negara, cuma pemberi pinjamannya itu BUMN China atau perusahaan swasta China. Jadi harusnya sih masuk ke data utang piutang kita," ujar RR dalam video wawancaranya dalam program Kabar Indonesia Petang TVOne, yang di posting melalui Instagram pribadinya, Kamis (8/10).

Menurut mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini, hasil penelitian Aid Data mengenai utang gelap Indonesia ke China ini sudah tepat, dan nilainya memang berada di kisaran Rp 266 triliun.

"Jadi angkanya saya kira benar. Cuma pertanyaannya, banyak dari angka-angka ini tidak tercatat sebagai utang negara," keluhnya.

RR mengkalkulasi, jika utang gelap tersebut ditambahkan dengan utang pokok negara yang tercatat kini sudah berkisar Rp 400 triliun, dan sekitar Rp 370 triliun untuk bunganya dalam setahun, maka total nilai utang negara sudah semakin menumpuk.

"Jadi totalnya itu (utang yang tercatat) Rp 770 triliun, satu tahun. Apalagi ditambah utang yang tidak tercatat ini, bisa jadi lebih dari Rp 800 triliun," tuturnya.

Selain itu, dalam model bisnis China tidak dikenal metode utang piutang pada umumnya. Yaitu, besaran utang yang dipinjamkan disesuaikan dengan kemampuan bayar orang yang berutang.

"Dalam konteks China itu istilahnya lend to own. Dia sengaja pinjamkan lebih besar daripada seharusnya (kemampuan kita) supaya enggak mampu bayar," beber RR.

Sebagai contoh, RR menyebutkan utang yang diberikan China kepada Srilanka yang tengah membangun proyek pelabuhan skala besar yang membutuhkan biaya sangat mahal. Namun,  pendapatan dari traffic pelabuhan tersebut sedikit.

"Akhirnya di Srilanka BUMN-nya enggak mampu bayar. Akhirnya diperpanjang kontraknya menjadi 2x99 tahun, hampir 200 tahun. Atau sahamnya mereka (China) ditingkatkan," ungkapnya.

Hal yang sama, menurut RR, bisa terjadi di Indonesia pada proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Dia mengaku khawatir mayoritas saham dari proyek tersebut dimiliki China, hanya karena BUMN tidak mampu membayar.

"Kecuali kita tegas. Karena proyek ini kemahalan, tentu tanggung jawab kontraktornya, harus ada sanksinya," tegas mantan Kepala Bulog ini.

Maka dari itu, RR menyimpulkan bahwa China tengah memainkan model bisnis yang tidak resmi untuk mendongkel potensi ekonomi banyak negara termasuk Indonesia.

"Istilah saya ekonomi Indonesia sudah di ICU, harus pakai ventilator terus. Ventilator itu artinya utang lagi utang lagi, karena untuk bayar bunganya saja harus pinjam," demikian RR.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Pencalonan Kaesang di Solo Raya Sinyal Perang Terbuka PSI vs PDIP

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Araghchi Ancam Balas Serangan Ukraina ke Kapal Dagang Iran

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Istana Tegaskan Mundurnya Perry Warjiyo Murni Keputusan Pribadi

Senin, 27 Juli 2026 | 10:13

Kejaksaan Harus Jawab Klaim Kriminalisasi Febrie dengan Bukti

Senin, 27 Juli 2026 | 10:04

KPK Dalami Aliran Dana yang Diduga Disiapkan Bupati Kuansing untuk Raja Juli

Senin, 27 Juli 2026 | 09:57

Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Perlu SOP yang Ketat

Senin, 27 Juli 2026 | 09:51

IHSG Merah, Rupiah Ambruk ke Rp17.976 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Senin, 27 Juli 2026 | 09:47

Kasatnarkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Senin, 27 Juli 2026 | 09:37

Pengamat: Sulit bagi Kaesang dan PSI Kuasai Solo Raya

Senin, 27 Juli 2026 | 09:34

Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Perry Warjiyo di Kepemimpinan Bank Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 | 09:25

Selengkapnya