Berita

Ketua Network for Indonesia Democratic Society (Netfid) Dahlia Umar/rEPRO

Politik

Khawatir Pencalonan Pilkada Terganggu, Netfid Setuju Pemilu Serentak 21 Februari 2024

RABU, 06 OKTOBER 2021 | 14:44 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Sampai saat ini jelang reses DPR RI belum ada keputusan kapan waktu pelaksanaan Pemilu serentak. Padadahal, dalam rapat dengar pendapat (RDP) 16 September lalu, keputusan pelaksanaan Pemilu akan ditentukan sebelum dimulai masa reses.  

Salah satu sebabnya, ada perbedaan sikap antara pemerintah yang ingin digelar 15 Mei dan KPU berserta pihak lainya pada 21 Februari 2024.

Ketua Network for Indonesia Democratic Society (Netfid) Dahlia Umar berpendapat, dalam konteks Pemilu serentak, usulan Komisi Pemilihan Umum (KPU) lebih tepat.


Argumentasi mantan Komisioner KPU DKI Jakarta ini, kalau digelar 15 Mei, dampaknya jeda antara Pemilu dan Pilkada bulan November di tahun yang sama sangat singkat.

Lebih lanjut, Dahlia menjelaskan, syarat pencalonan Pilkada sangat ditentukan oleh hasil Pemilu DPRD definitif.

"Hasil pemilu legislatif memakan waktu apabila ada sengketa hasil di MK Dan harus dipastikan selesai sebelum masa pencalonan Pilkada," demikian pendapat Dahlia Umar saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (6/10).

Analisa Dahlia, berdasarkan pengalaman penyelenggaran Pilkada, seluruh tahapan sampai hari pelaksanaan membutuhkan waktu 6 bulan. Apalagi, sengketa penyelesaian sengketa Pemilu biasanya butuh waktu 3 bulan.

"Sehingga perlu ada waktu jeda yang cukup untuk memastikan hasil Pemilu legislatif telah final ditetapkan sehingga pencalonan Pilkada dapat diusulkan oleh partai yang memperoleh kursi di DPRD pada pemilu 2024," tandas Dahlia.

Ia mengaku khawatir, jika pemerintah memaksakan Pemilu diadakan Mei 2024 maka implikasinya adalah terganggunya tahapan dan pelaksanaan Pemilu serentak.

"Bila waktu jeda tidak cukup dikhawatirkan mengganggu tahap pencalonan pada Pilkada," pungkas Dahlia.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya