Berita

Menteri Luar Negeri Kanada Marc Garneau/Net

Dunia

Kanada Siap Normalisasi Hubungan dengan China Sambil Terus Menyerukan Pelanggaran HAM Uighur

SENIN, 27 SEPTEMBER 2021 | 07:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kesempatan normalisasi hubungan antara Kanada dan China kini terbuka lebar menyusul pembebasan Kepala Bagian Keuangan Huawei Meng Wanzhou, setelah hampir tiga tahun menjadi tahanan rumah di Vancouver.

Kemungkinan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Marc Garneau dalam sebuah pernyataan kepada CBC News, Minggu (26/9).

Garneau mengatakan bahwa pemerintah saat ini memiliki empat prinsip pendekatan dengan pemerintah China, yaitu: berdampingan, bersaing, bekerja sama, dan menantang.


Kanada, katanya, akan bersaing dengan China dalam isu-isu seperti perdagangan dan bekerja sama dalam perubahan iklim, sambil menantangnya dalam perlakuannya terhadap Uighur, Tibet, dan Hong Kong seperti yang telah dilakukan Ottawa di masa lalu.

"Biar saya katakan, mata kami terbuka lebar. Kami telah mengatakan itu selama beberapa waktu. Tidak ada jalan menuju hubungan dengan China selama kedua Michael ditahan," kata Garneau.

Pernyataan Garneau datang dua hari setelah Meng, putri pendiri Huawei Ren Zhengfei terbang kembali ke China pada Jumat (24/9), setelah mencapai kesepakatan dengan jaksa AS untuk mengakhiri kasus penipuan bank terhadapnya, yang sekaligus mengakibatkan pembatalan pertempuran ekstradisinya di pengadilan Kanada.

Segera setelah Meng terbang ke China, Michael Kovrig dan Michael Spavor - dua warga Kanada yang ditahan oleh otoritas China hanya beberapa hari setelah penangkapan Meng di Vancouver pada Desember 2018 atas surat perintah AS - dibebaskan oleh Beijing.

Perdana Menteri Justin Trudeau dan Garneau menerima kedua orang Kanada itu pada hari Sabtu ketika mereka tiba di Calgary, Alberta, setelah menghabiskan lebih dari 1.000 hari di sel isolasi.

Spavor dituduh memasok foto-foto peralatan militer ke Kovrig dan dijatuhi hukuman 11 tahun penjara pada Agustus. Sementara Kovrig sedang menunggu hukuman.

Trudeau, yang memenangkan masa jabatan ketiga Senin lalu setelah melewati pemilihan umum yang ketat, telah berjanji untuk meningkatkan hubungan dengan China setelah menjadi perdana menteri pada 2015, membangun kesuksesan ayahnya dalam membangun hubungan diplomatik dengan China pada 1970.

Tetapi bahkan sebelum penangkapan Meng, pertanyaan berulang-ulang Kanada tentang posisi hak asasi manusia China telah membuat marah Beijing, dan kedua negara gagal untuk mendekat.

China selalu membantah adanya hubungan antara kasus ekstradisi Meng dan penahanan dua warga Kanada, tetapi Garneau mengatakan bahwa kembalinya kedua Michael dengan secara langsung telah menujukkan adanya hubungan pembebasan itu dengan kasus Meng.

Garneau mengatakan dia telah mendengar tentang perjanjian penangguhan penuntutan (DPA) beberapa minggu lalu, yang membuka pintu bagi kembalinya kedua pria itu.

Bantahan datang dari Duta Besar Kanada untuk Amerika Serikat Kirsten Hillman. Ia membantah kabar yang mengatakan Washington telah menjadikan pembebasan Kovrig dan Spavor sebagai syarat untuk penyelesaian dakwaan terhadap Meng.

"Sama sekali tidak. DPA dan penyelesaian dakwaan terhadap Meng adalah proses yang sepenuhnya independen, dan berjalan seperti itu," kata Hillman kepada media Kanada CTV.

Garneau juga mengatakan dia tidak berpikir waktu kembalinya orang-orang itu ada hubungannya dengan pemilihan federal.

"Saya pikir itu hanya berhasil begitu saja," katanya.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya