Berita

Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk menggelar pertemuan dengan Iran di tengah pertemuan para pemimpin dunia di PBB di New York pekan depan/Net

Dunia

AS Tidak Berencana Gelar Pertemuan dengan Iran di Sela Sidang Umum PBB, Apa Kabar JCPOA?

SABTU, 18 SEPTEMBER 2021 | 00:43 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk menggelar pertemuan dengan Iran di tengah pertemuan para pemimpin dunia di PBB di New York pekan depan.

Menurut keterangan Dutabesar Amerika Serikat untuk PBB Linda Thomas-Greenfield pada Jumat (17/9), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken tidak memiliki rencana untuk bertemu dengan mitra barunya dari Iran di sela Sidang Umum PBB.

Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Wina tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir tahun 2015 atau JCPOA, telah berhenti pada Juni lalu.


Hingga saat ini, belum ada tanda bahwa pembicaraan semacam itu akan kembali dilakukan oleh Amerika Serikat dan Iran di bawah pemerintahan baru Iran yang dipimpin oleh Presiden Ebrahim Raisi.

Menteri Luar Negeri Iran yang baru, Hossein Amirabdollahian akan melakukan perjalanan ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB pekan depan. Namun beluma da indikasi bahwa dia akan bertemu dengan perwakilan Amerika Serikat secara khusus.

"Kami telah terlibat dengan Iran dan di Wina, dan diskusi itu akan berlanjut," kata Thomas-Greenfield.

“Kami belum membuat rencana langsung untuk pertemuan bilateral saat mereka di sini, tetapi itu tidak berarti bahwa kami tidak melihat nilai dalam berdiskusi dengan Iran karena kami ingin bergerak maju dalam masalah yang terkait dengan JCPOA,” sambungnya, seperti diwartakan Reuters.

JCPOA merupakan akronim dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama atau kesepakatan nuklir yang dibuat oleh Iran, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Jerman, Rusia dan China pada tahun 2015 lalu.

Di bawah perjanjian itu, Iran menerima pembatasan pada program nuklirnya dengan imbalan pencabutan banyak sanksi asing terhadapnya.

Namun, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump hengkang dari perjanjian itu pada tahun 2018 dan kembali menerapkan sanksi keras kepada Iran. Hal itu mendorong Iran untuk mulai melanggar beberapa batasan nuklir pada tahun 2019.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya