Berita

Jepang dan China saling klaim kedaulatan atas wilayah kepulauan yang disebut Senkaku oleh Tokyo dan Diaoyu oleh China/Net

Dunia

Jepang Tarik "Garis Merah" dalam Sengketa Kepulauan Senkaku dengan China

JUMAT, 17 SEPTEMBER 2021 | 02:40 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Jepang tidak pernah bermain-main jika berurusan dengan kedaulatan wilayah.

Dalam sebuah wawancara terbaru dengan CNN, Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi menegaskan bahwa wilayah Kepulauan Senkaku tidak diragukan lagi merupakan wilayah Jepang dan pihaknya akan terus mempertahankan itu.

Wilayah itu merupakan salah satu titik gesekan antara Jepang dan China. Pasalnya, negeri tirai bambu juga mengklaim kepulauan itu sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. China menyebut wilayah itu sebagai Kepulauan Diaoyu.


Meski begitu, Kishi menegaskan bahwa Tokyo akan menandingi setiap ancaman China terhadap wilayah kepulauan itu jika memang diperlukan.

Jepang pun menarik "garis merah" di sekitar wilayah kepulauan itu dan mendorong kembali sikap China yang agresif. Jepang telah memperluas Pasukan Bela Diri mereka serta mengerahkan lebih banyak jet tempur F-35 yang canggih ke wilayah tersebut. Bukan hanya itu, Jepang juga mengubah kapal menjadi kapal induk.

"Terhadap tindakan China ke Kepulauan Senkaku dan bagian lain dari Laut China Timur ... kami harus menunjukkan bahwa pemerintah Jepang dengan tegas mempertahankan wilayah kami dengan jumlah penjaga pantai Jepang yang lebih banyak daripada China," kata Kishi.

“Tidak ada sengketa wilayah terkait Kepulauan Senkaku antara Jepang dengan negara lain,” tambahnya.

Akar Sejarah

Tumpang tindih klaim atas wilayah rantai kepuluan berbatu itu telah terjadi sejak berabad-abad yang lalu antara kedua negara. Namun ketegangan terkait hal itu memuncak beberapa tahun lalu.

Dampaknya tidak main-main. Pada tahun 2012 lalu, ketika ketegangan atas klaim kepulauan itu memuncak, muncul gelombang sentimen nasionalis di China.

Pada saat itu, terjadi protes publik di puluhan kota di China. Protes banyak berujung pada pengrusakan mobil-mobil bermerek Jepang serta toko-toko dan restoran Jepang dan puing-puingnya dibuang ke Kedutaan Besar Jepang di Beijing.

China Tidak Kalah "Galak"

Bukan hanya Jepang yang tegas dan "galak" dalam menegaskan kedaulatan mereka atas wilayah itu, di tingkat pemerintahan, China juga seolah tidak mau kalah "galak".

"Pulau Diaoyu dan pulau-pulau yang berafiliasi dengannya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah China, dan merupakan hak kami untuk melakukan patroli dan kegiatan penegakan hukum di perairan ini," begitu pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri China tahun lalu.

China mendukung klaimnya di wilayah itu dengan mengirim kapal-kapalnya dan menetapkan undang-undang baru yang memberikan kekuatan yang diperluas kepada penjaga pantainya.

Menurut pihak berwenang Jepang, kapal Penjaga Pantai China telah menjelajah ke perairan teritorial Jepang, atau dalam jarak 12 mil laut dari tanah Jepang, sebanyak 88 kali antara 1 Januari dan akhir Agustus tahun ini.

Sedangkan di zona tambahan, perairan antar pulau tetapi tidak dalam jarak 12 mil dari pantai, telah terjadi 851 serbuan China.

"Ada tindakan yang terus menantang bagian integral dari wilayah kedaulatan Jepang," kata Kishi.

Jepang, Taiwan dan China. Ada Apa?

Di tengah sengketa wilayah dengan China, Jepang juga memiliki titik "gesekan" lain, yakni Taiwan.

Apa maksudnya?

Jepang memiliki pulau kecil di wilayah paling ujung barat yang merupakan bagian dari rangkaian wilayah kepemilikan Jepang yang sejajar dengan pantai China, bernama Pulau Yonaguni. Pulau yang terdiri dari sekitar 11 mil persegi dan dihuni oleh populasi kurang dari 2.000 orang ini terletak hanya sekitar 110 kilometer dari Taiwan.

Sedangkan Taiwan merupakan wilayah yang memilih untuk mengatur sendiri pemerintahan secara demokratis. Namun China mengklaim bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayahnya yang "membandel".

China bahkan telah meningkatkan tekanan militernya di Taiwan. Bulan Juli lalu, Beijing puluhan pesawat tempur di dekat pulau itu dan mendorong Taiwan untuk memperingatkan pertahanan udaranya.

Pemimpin China Xi Jinping telah mengatakan bahwa Taiwan harus berada di bawah kendali Beijing dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mewujudkannya.

Kondisi itulah yang kata Kishi membuat Jepang dalam selalu berada dalam keadaan waspada. Oleh karena itu, Jepang memberikan bahasa terkuat yang pernah dibuat terkait Taiwan dalam buku putih yang dirilis Juli lalu dengan menyebut bahwa, "menstabilkan situasi di sekitar Taiwan penting untuk keamanan Jepang".

Dalam wawancara dengan CNN, Kishi secara spesifik menjelaskan bahwa apa yang terjadi di Taiwan secara langsung terkait dengan Jepang. Dia menekankan bahwa pulau itu berada di atas "jalur energi" negaranya.

"Sembilan puluh persen energi yang digunakan Jepang diimpor melalui daerah sekitar Taiwan," kata Kishi.

Karena itulah, Jepang menilai bahwa apa yang bisa terjadi di Taiwan kemungkinan bisa menjadi masalah bagi Jepang.

"Dan dalam hal ini, Jepang harus mengambil tanggapan yang diperlukan untuk situasi itu," kata Kishi, sambil menekankan bahwa ketegangan harus dibawa melalui jalur dialog, dan bukan kekerasan.

Namun Jepang tidak hanya menggunakan kata-kata untuk mendukung klaimnya. Jepang juga meningkatkan pertahanan militernya, menempatkan rudal dan pasukan di Yonaguni dan berencana untuk melakukan hal yang sama ke wilayah terdekatnya, yakni Ishigaki, dalam waktu dekat.

"Ini untuk menunjukkan keinginan kuat kami untuk mempertahankan wilayah barat daya wilayah Jepang kami," kata Kishi.

Terkait hal ini, Jepang memiliki sekutu kunci di sudutnya, yakni Amerika Serikat. Kkedua negara memiliki perjanjian pertahanan bersama, yang artinya Amerika Serikat berkewajiban untuk mempertahankan wilayah Jepang.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden sendiri telah menegaskan kembali komitmen keamanan itu tidak lama setelah pelantikannya pada Januari dengan pernyataan Gedung Putih yang secara khusus menyebutkan Senkaku.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Teknik Klasik, Kaitkan Prabowo dengan Teror Aktivis

Kamis, 02 April 2026 | 14:02

Kepala BNPB hingga BMKG Turun Langsung ke Lokasi Gempa di Sulut dan Malut

Kamis, 02 April 2026 | 13:59

TEBE Siap Tebar Dividen Rp200,46 Miliar, Cek Jadwal Lengkapnya

Kamis, 02 April 2026 | 13:51

Penerapan WFH di DKI Bisa Jadi Contoh Penghematan BBM

Kamis, 02 April 2026 | 13:40

Awas Penunggang Gelap Gelar Operasi Senyap Jatuhkan Prabowo Lewat Kasus Aktivis KontraS

Kamis, 02 April 2026 | 13:33

Kemkomdigi Tunggu Itikad Baik Youtube dan Meta Patuhi PP Tunas

Kamis, 02 April 2026 | 13:20

Trump akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

Demi AI, Oracle PHK 30.000 Karyawan Lewat Email

Kamis, 02 April 2026 | 13:19

ASN Diwanti-wanti WFH Bukan Libur Panjang

Kamis, 02 April 2026 | 13:15

Aksi Heroik Sugianto Bikin Prabowo Bangga, Diganjar Penghargaan Presiden Korsel

Kamis, 02 April 2026 | 13:09

Selengkapnya