Berita

Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengumumkan susunan pemerintahan Afghanistan/Net

Dunia

Analis Afghanistan Kecam Kabinet Bentukan Taliban yang Tanpa Loya Jirga dan Didominasi Tokoh yang Terlibat dalam Aksi Teror

RABU, 08 SEPTEMBER 2021 | 08:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Susunan Kabinet Taliban telah menuai kritik tajam dari para analis Afghanistan dan mantan pemimpin politik.

Taliban dianggap telah mengingkari janji akan membentuk pemerintah Afghanistan yang inklusif dengan nama-nama penunjukkan yang didominasi oleh anggotanya sendiri.

Terlebih, susunan kabinet itu semuanya adalah laki-laki. Ini menyangkal klaim mereka sendiri yang berjanji untuk menjunjung hak perempuan dan juga etnis minoritas.


Lima Ahmad, kandidat PhD dalam keamanan internasional dan resolusi konflik di The Fletcher School di Tufts University menyayangkan susunan kabinet yang baru diumumkan yang tidak menyertakan perempuan di dalamnya dan orang-orang dari minoritas Hazara.  

"Dengan siapa mereka berbicara atau berkonsultasi sebelum menyusun Kabinet ini?" keluh Lima, seperti dikutip dari The National.

Sebagian besar kabinet terdiri dari para pemimpin Taliban dengan banyak anggota dari klan Haqqani, kata Lima, seperti dikutip dari AFP.  

“Inklusivitas berarti mereka berbicara dengan warga Afghanistan, yang mencakup masyarakat sipil, perempuan, kelompok etnis yang berbeda termasuk minoritas," kata Lima.

Ia juga mempertanyakan mengapa orang-orang yang ditunjuk didominasi dengan Mullah (pemimpin agama). 

"Adalah suatu kesalahan untuk percaya bahwa  ini mewakili Afghanistan," tambahnya.

Pilihan tersebut tidak memiliki keseimbangan demografis dan mengabaikan nilai-nilai Afghanistan.

Lima juga menyoroti tidak adanya Loya Jirga, di mana perwakilan suku Afghankistan bisa ikut memberikan masukan dan menimbang.
Loya jirga adalah sebuah majelis khusus suku bangsa Pashtun yang tinggal di Afghanistan, yang dipandang sebagai majelis agung tradisional para tetua suku, yang memiliki tempat umum dalam politik Afghanistan.

Lima menekankan bahwa susunan kabinet sementara telah cacat karena dipilih dengan tidak berdasarkan diskusi.
 
Lima juga menyoroti beberapa anggota Kabinet yang ternyata berada dalam daftar hitam PBB. Menteri Dalam Negeri baru Sirajuddin Haqqani juga dicari oleh FBI, dan Jaringan Haqqani adalah organisasi teroris yang ditunjuk AS.

"Ini termasuk empat anggota Haqqani, kebanyakan dari mereka memiliki sayembara di kepala mereka sebagai orang yang paling dicari. tapi sekarang mereka adalah anggota Kabinet resmi dari pemerintah Taliban," kata Lima.

Orang-orang yang ditunjuk memegang kendali atas penegakkan hukum justru adalah orang yang dikenal dengan kebrutalan dan aksi terorismenya.

"Saya takut pada negara saya, saya takut pada rakyat saya, karena orang itu sangat brutal," ujar Lima.

Sabir Ibrahimi, rekan non-residen di Center on International Co-operation di New York University, memiliki pendapat yang sama tentang 'kabinet yang tidak mewakili Afghanistan'.

"Kabinet ini hanya mewakili Taliban dan Jaringan Haqqani. Kami tidak melihat Hazara atau wanita dalam daftar ini, atau bahkan perwakilan utama Tajik atau Uzbekistan."

Ibrahimi mengatakan komposisi Kabinet merupakan bukti fakta bahwa kelompok tersebut tidak pernah memiliki niat nyata untuk terlibat dalam penyelesaian politik.

“Mereka hanya ingin memenangkan perang ini lalu mendirikan Kabinet mereka yang didominasi Taliban,” katanya.

Reaksi serupa datang dari para pemimpin politik Afghanistan yang baru saja digulingkan.

“Taliban mengumumkan pemerintah yang tidak memiliki tempat dalam konstitusi negara dan tidak memiliki profesionalisme,” kata pemimpin Tajik Atta Noor, yang sampai saat ini memegang kendali atas wilayah yang luas di utara.

Noor terpaksa meninggalkan negara itu, bersama dengan sekutu baru-baru ini dan pemimpin Uzbekistan Abdul Rashid Dostum, tak lama setelah jatuhnya provinsi Balkh pada 14 Agustus.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya