Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Jubir Taliban Tolak Tuduhan Anggotanya Tembak Mati Polwan yang Sedang Hamil 8 Bulan

RABU, 08 SEPTEMBER 2021 | 06:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Komitmen Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan Afghanistan kembali menjadi sorotan, setelah beredar kabar seorang polisi wanita yang sedang hamil ditembak mati kelompok tersebut.

Kematian perempuan warga provinsi Ghor, Afghanistan tengah, itu dikonfirmasi sendiri oleh anaknya kepada CNN. Dia mengatakan perempuan bernama lengkap Negar Masoomi itu ditembak tepat di hadaoan keluarganya.

Kasus ini juga dikonfirmasi ke CNN oleh seorang jurnalis lokal di Ghor, yang mengatakan perempuan itu bekerja di penjara Ghor dan sedang hamil delapan bulan ketika dia meninggal.


Video yang diperoleh CNN menunjukkan putranya yang bernama Mohammad Hanif memberikan keterangan tentang pembunuhan itu, mengatakan bahwa Taliban masuk ke dalam rumah tempat keluarganya tinggal, kemudian membawa dirinya dan saudara-saudaranya ke luar dan mengikat mereka.

"Mereka membunuh ibu kami di depan mata kami. Mereka membunuhnya dengan pisau," kata Hanif.

Karena dia hamil, kata Hanif, Taliban melakukan dua pembunuhan dan dia meminta pemerintah untuk bertindak menemukan para pembunuh dan membawa mereka ke pengadilan.

"Jika tidak ada yang dilakukan, kita mungkin harus mengambil tindakan hukum sendiri," ancam Hanif.

Bilal Kareemi, juru bicara Taliban, membantah tuduhan itu.

"Dia tidak dibunuh oleh Mujahidin Imarah Islam, mungkin karena permusuhan pribadi, tapi kami belum menerima hasil akhir dari penyelidikan," katanya.

"Mujahidin kami sedang sibuk menyelidiki insiden itu dan kami akan berbagi dengan Anda temuan akhir kami segera setelah kami menerimanya," ujarnya.

Para pemimpin Taliban telah bersikeras secara terbuka bahwa perempuan akan memainkan peran penting dalam masyarakat di Afghanistan dan memiliki akses ke pendidikan.

Kelompok itu hingga kini masih terlibat dalam pembicaraan mengenai pembentukan pemerintahan, tetapi dalam beberapa pekan terakhir telah mengisyaratkan perempuan harus tinggal di rumah, dan, dalam beberapa kasus, militan telah memerintahkan perempuan untuk meninggalkan tempat kerja mereka.

Langkah-langkah ini bertentangan dengan upaya kelompok itu untuk tampak lebih toleran, dan malah memicu ketakutan akan kembalinya kebijakan keras pemerintahan Taliban dua dekade lalu, ketika perempuan menghilang dari kehidupan publik.

Beberapa wanita Afghanistan sudah memilih untuk tetap berada di dalam rumah karena kekhawatiran meningkat atas keselamatan mereka, dengan beberapa keluarga membeli burqa ukuran penuh untuk kerabat wanita.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya