Berita

Penulis adalah Ketua LP Ma'arif PWNU DKI Jakarta, Sudarto/Ist

Publika

Menakar Permasalahan Permendikbudristek 6/2021

Oleh: Sudarto*
SENIN, 06 SEPTEMBER 2021 | 15:08 WIB

PERATURAN Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Reguler menciderai semangat pendidikan dan pengembangan pendidikan untuk masa yang akan datang.

Secara garis besar, ruang lingkup dana BOS reguler sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1 Ayat 2 adalah, dana BOS dialokasikan untuk membantu kebutuhan belanja operasional seluruh peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah.

Sehingga ketentuan Pasal 3 Ayat 2 huruf d tentang syarat sekolah penerima dana BOS reguler yang mengharuskan “memiliki jumlah peserta didik paling sedikit 60 (enam puluh) selama 3 (tiga) tahun terakhir” sangat jelas bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1 dan Ayat (2) yang secara konstitusional peraturan tersebut dapat dibatalkan.


Di samping itu juga bertentangan dengan asas kepentingan umum, di mana seharusnya peraturan tersebut harus mengedepankan asas kepentingan umum yang mendahulukan kesejahteraan umum dan kemanfaatan umum dengan cara aspiratif, akomodatif, dan tidak diskriminatif.

Ketentuan dalam peraturan ini yang memunculkan pasal berupa syarat sekolah penerima dana BOS dibuat dengan mekanisme yang tidak aspiratif, akomodatif, dan diskriminatif.

Secara prinsip, asas penyelenggaran kepentingan itu menghendaki agar dalam setiap tindakan yang merupakan perwujudan dari penyelenggaraan tugas pokok kementerian selalu mengutamakan kepentingan umum dengan cara aspiratif, akomodatif, dan tidak diskriminatif.  

Semangat besar Kemendikbudristek yang ada saat ini seharusnya dimaknai sebaliknya, bahwa lembaga pendidikan yang memiliki jumlah peserta didik kurang dari 60 peserta selama tiga tahun terakhir mendapatkan perhatian khusus dari kementerian untuk mendapat bantuan dana bos reguler sebagai perwujudan semangat menteri pendidikan dalam memajukan lembaga pedidikan, bukan justru dianulir sebagai lembaga yang berhak menerima dana BOS reguler.

Semangat peraturan yang dibuat oleh Kemendikbudristek dalam memajukan pendidikan harus menyimpan nilai-nilai yang terkandung dalam asas kepentingan umum, yaitu untuk kepentingan nasional, bangsa dan negara, kepentingan pembangunan, kepentingan masyarakat.

Aspek asas kepentingan umum sangat penting posisinya dalam penyelenggaraan pemerintahan, sebagai jelmaan bahwa pemerintah adalah pelayan terhadap seluruh kebutuhan masyarakat, yaitu harus mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara memahami dan menampung harapan dan keinginan masyarakat secara cermat, dan tidak membatasi kepentingan pendidikan masyarakat yang telah dijamin oleh Konstitusi kita.

Karena hakikatnya, kepentingan umum/kepentingan pendidikan masyarakat adalah kepentingan nasional yang berlandaskan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kesejahteraan umum mengandung makna bahwa kegiatan pembangunan pendidikan dan hasilnya yang bersumber dari dana BOS adalah untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Dalam konteks ini, kebijakan yang dibuat adalah untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan pendidikan, bukan membatasi dan mendiskriminasi tumbuhnya lembaga pendidikan.

Dengan demikian, maka seharusnya Kemendikbudristek melakukan revisi terhadap Permedikbudristek 6/2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Reguler, agar tidak terjadi pertentangan semangat pendidikan yang diatur didalam UUD 1945 dengan Permedikbudristek yang secara nyata dan jelas telah menimbulkan perlakuan diskrikiminasi terhadap lembaga pendidikan, untuk melakukan revisi agar mengedepankan kepentingan umum dengan cara aspiratif, akomodatif, dan tidak diskriminatif.

*Penulis adalah Ketua LP Ma'arif PWNU DKI Jakarta

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya